next contribution kontribusi berikutnya

A conversation with T.J. Demos Percakapan dengan T.J. Demos mengenai Budaya Visual dan Lingkungan Oleh Charlotte Dumoncel d’Argence dan Laura Herman

Charlotte Dumoncel d’Argence and Laura Herman

SATURDAY, 16 DECEMBER 2017, BRUSSELS
BY CHARLOTTE D’ARGENCE DUMONCEL AND LAURA HERMAN (NC)
Sabtu, 16 Desember 2017, Brusel
Oleh Charlotte d’Argence Dumoncel and Laura Herman

NC
Could you spell out the relationship between the idea of decoloniality that you have put forward in Decolonizing Nature and the analysis of a visual culture of the Anthropocene in your latest book? Bisakah anda bisa menjelaskan relasi antara gagasan dekolonialitas yang telah anda kemukakan dalam buku Dekolonialisasi Alam anda dan analisis budaya visual Antroposen dalam buku terakhir anda?
TJD
Decolonising Nature came about after a few years of research, when I began thinking about sustainability and other key terms of environmentalism in the wider context of globalisation. This was the subject of books such as The Migrant Image where I was looking at a wide field of artistic practices investigating conditions of migration—of people but also of images—in an age of increasing reproduction and dissemination of digital imagery. This was an entrance into how to think and critique the claims of triumphalist globalisation in the 90s and the fact that we have entered a period of post-Cold War, and a new world order of global equalisation, open travel, the collapse of borders, and a new kind of “flat earth”. New and longstanding antagonisms continue in relationship to colonial legacies, and there is an argument that colonialism is not simply in the past but continues today. Not simply in places like Israel and Palestine, but also through the effects of neo-colonialism and the financialisation of markets. If you are looking to this wider field, then ecology and environmentalism, which impact not only humans but also the natural world, are an organic part of the crisis of globalisation. Decolonizing Nature was an attempt to bring methodologies of decoloniality, which I found are increasingly important to give us a critical lens on what is happening today in term of the structural conditions, but also on our thinking about environmentalism. Because there is a danger—as you may know—for environmentalism to become a white, middle class type of discourse and practice that involves recycling and ethical consumerism, green technology, etc. I wanted to connect the practices, discourses of social movements and activism around protecting wilderness zones, natural landscapes or animal life to social justice and environmental justice campaigns, in order to ultimately address ‘black lives matter’—the way communities of colour or communities of the Global South are particularly vulnerable to the development of the global industry in the North. In the book, I was really insistent in opening up artistic practices that are not just Northern European or North American analyses, but attempted to look at a distributed variety of practices all over the world. The thesis developed inAgainst the Anthropocene connects to this project of decoloniality, but more specifically by looking at new claims that are equally potentially triumphalist, celebratory or fantasy-based. The Anthropocenethesis itself, which is regressive in terms of returning to human anthropocentrism and human exceptionalism, avoids recognising the disproportionate impact of climate change that affects some people more than others. The reasons for this have to do with class, race, gender and geographical distribution. The book is a particular attempt to critique the Anthropocene thesis. It proposes a different critical vocabulary orcritical perceptual lenses and methodologies by drawing on decolonial forms emerging out of the indigenous histories and ways of talking about law and the economy, and social and human practices. Dekolonialisasi Alam muncul setelah beberapa tahun penelitian, ketika saya mulai memikirkan keberlanjutan dan hal-hal penting lainnya dari environmentalisme dalam konteks globalisasi yang lebih luas. Ini adalah topik dari buku seperti The Migrant Image (Citra Migran) di mana saya melihat bidang luas dari praktik artistik yang menyelidiki kondisi dari migrasi — akan orang namun juga dari gambar — dalam zaman peningkatan reproduksi dan diseminisasi dari citra digital. Ini adalah pintu masuk untuk bagaimana memikirkan dan mengkritik klaim dari kemenangan globalisasi di tahun 90an dan fakta bahwa kita telah memasuki periode pasca-Perang Dingin, dan tatanan dunia baru pemerataan global, perjalanan terbuka, runtuhnya perbatasan, dan jenis baru “bumi datar”. Antagonisme baru dan lama terus berlanjut dalam hubungan dengan warisan kolonial, dan adanya argumen bahwa kolonialisme bukan hanya ada di masa lalu namun terus berlanjut sampai sekarang. Tidak hanya di tempat-tempat seperti Israel dan Palestina, tapi juga melalui dampak neo-kolonialisme dan finansialisasi pasar. Jika Anda melihat dalam bidang yang lebih luas ini, lalu ekologi dan environmentalisme, yang mana tidak hanya berdampak pada manusia tapi juga dunia alam, adalah bagian organik dari krisis globalisasi. Dekolonialisasi Alam adalah upaya untuk membawa metodologi dekolonialitas, yang mana saya temukan semakin penting untuk memberi kita lensa kritis tentang apa yang terjadi hari ini dalam hal kondisi struktural, namun juga pemikiran kita tentang environmentalisme. Karena ada bahaya — seperti yang Anda ketahui — untuk environmentalisme menjadi tipe wacana kelas menengah kulit putih dan praktiknya melibatkan daur ulang, konsumerisme beretika, teknologi hijau, dll. Saya ingin menghubungkan praktik, wacana gerakan sosial dan aktivisme seputar zona alam liar, lanskap natural atau kehidupan binatang pada keadilan sosial dan kampanye keadilan lingkungan, untuk akhirnya mengatasi ‘kehidupan kulit hitam penting’ — cara di mana komunitas kulit berwarna dan komunitas dari Global Selatan secara khusus rentan terhadap pembangunan industri global di Utara. Dalam buku ini, saya benar-benar mendesak untuk membuka praktik artistik yang bukan hanya analisa Eropa Utara atau Amerika Utara, namun berusaha melihat beragam praktik yang tersebar di seluruh dunia. Tesis yang dikembangkan dalam Menentang Antroposen menghubungkan proyek dekolonialitas ini, namun secara lebih spesifik dengan melihat klaim baru yang sama-sama berpotensi berjaya, berbasis perayaan atau fantasi. Tesis Antroposen itu sendiri, yang bersifat regresif dalam hal kembali pada antroposentrisme manusia dan pengecualianisme manusia, menghindari pengenalan dampak perubahan iklim yang tidak proporsional, yang mempengaruhi lebih pada beberapa orang daripada yang lain. Alasan untuk hal ini berkaitan denga kelas, ras, jenis kelamin dan distribusi geografis. Buku ini merupakan upaya khusus untuk mengkritik tesis Antroposen. Ini mengusulkan kosakata kritis yang berbeda atau lensa persepsi kritis dan metodologi dengan menggambar pada bentuk-bentuk dekolonial yang muncul dalam sejarah pribumi dan cara berbicara tentang hukum dan ekonomi, dan praktik-praktik sosial dan manusia.
#
IMG 1
Welcome to the Anthropocene charts the growth of humanity into a global force on an equivalent scale to major geological processes. Selamat datang di grafik Antroposen mengenai pertumbuhan manusia menjadi kekuatan global yang setara dengan proses geologi utama.
NC
You briefly addressed the uneven distribution of environmental damages, but could you please speak a little more to the ways in which gender, class, race and the environment intersect in your work? Anda secara singkat menyampaikan distribusi yang tidak rata dari dampak linkungan, namun bisakah anda bicara sedikit tentang cara dimana gender, kelas, ras, dan lingkungan silang menyilang dalam karya anda?
TJD
Intersectionality is something I think about more and more. Intersectionality is becoming a crucial and critical research tool. From my understanding, within the North American context, it comes out of African American legal theories, recognizing, for example, the fact that oppression cannot be contained within one category ofexperience like race. Black women, for instance, are subject to multiple potential forms of micro aggressions or racial inequalities, but also gender, class and religious based inequalities—the relationality between different vectors of oppression. Since intersectionality insists on an interdisciplinary form of connectivity, it is also potentially related to ecology as a science of connectivity between organisms and their environments. Part of my project has been to explore ways of thinking about ecology as a mode of intersectionality, as well as transversality, which is another useful ontology coming out of the French psychoanalytic, post-structuralism context and particularly the work of Gilles Deleuze and Félix Guattari. In Chaosophy and The Three Ecologies Guatarri investigates the term transversality, which means we have to think about ways of understanding the organisation and the regulation of experience through specific ecologies or system theories, including the psychological, social, and environmental system, and how to connect those realms. On the one hand, there is the Guattarian transversality, which is useful because it insists on thinking not just from the human realm but also from the non-human realm in relationship to ecology. On the other hand, there is intersectionality, which insists on biopolitics of the human in relationship to race, gender, class, etc. To bring those two together and think them in relation to one another really opens things up, exploding the terrain in really productive and interesting ways. Persilangan adalah sesuatu yang saya semakin dan semakin saya pikirkan. Persilangan menjadi alat riset yang krusial dan kritis. Dari pengertian saya, dalam konteks Amerika Utara, hal ini keluar dari teori legal orang Amerika Afrika, mengenali, sebagai contoh, bahwa fakta akan opresi tidak bisa dikandung hanya dalam satu kategori pengalaman seperti ras. Perempuan berkulit hitam, sebagai contoh, adalah subjek dari bentuk potensial berlipat dari agresi mikro atau ketidakadilan rasial, namun juga gender, kelas, ketidakadilan berbasis agama — keterhubungan antara vektor opresi yang berbeda. Semenjak persilangan menekankan pada bentuk hubungan interdisipliner dari keterhubungan, ini juga secara potensial terelasi pada ekologi sebagai sains dari keterhubungan antara organisme dan lingkungan mereka. Bagian dari proyek saya telah menjadi sebagai cara mengekplorasi berpikir mengenai ekologi sebagai mode interseksi dan juga transversalitas, yang mana dalam ontologi bergunal lainnya datang dari psikoanalisis Perancis, konteks pasca-strukturalisme dan secara khusus karya dari Gilles Deleuze dan Félix Guattari. Dalam Chaosophy and The Three Ecologies Guattari menyelidiki istilah tranversialitas, yang mana kita harus memikirkan cara untuk mengerti organisasi dan peraturan dari pengalaman, melalui ekologi spesifik atau teori sistem, termasuk sistem psikologi, sosial dan lingkungan, dan bagaimana berhubungan dengan dunia itu. Di satu tangan, Guattarian transversialitas, yang mana berguna karena menekankan pada berpikir tidak hanya alam dunia manusia namun juga dari dunia non-manusia dalam hubungannya pada ekologi. Di tangan yang lain, di mana adanya persilangan, yang mana menekankan biopolitik dari manusia dalam hubungan terhadap ras, gender, kelas, dll. Untuk membawa keduanya bersama dan memikirkan mereka sebagai relasi satu sama lain benar-benar membuka persoalan, meledakkan medan dalam cara yang benar-benar produktif dan menarik.
NC
In the second chapter of Against the Anthropocene, you elaborate on the distinction between ‘techno-utopians’ and ‘eco-Soterians’, which you present as a duality. If techno-utopianism stands for top-down representations, and eco-Soterianism works from the bottom up, what could be a middle way? How could we develop an interface between these two camps in order to find a common ground and work together? Dalam bab kedua dari Melawan Antroposen, anda mengelaborasi perbedaan antara ‘utopia-tekno’ dan’eco-Soterian’, yang mana anda tampilkan sebagai dualitas. Jika tekno-utopianisme berdiri sebagai perwakilan atas-bawah, dan eko-Soterianisme bekerja dari bawah ke atas, apa yang akan menjadi jalan tengah? Bagaimana kita dapat mengembangka antarmuka di antara dua kamp ini agar mendapatkan kesamaan dan bekerja sama?
TJD
They can come together in some ways, although ultimately the Soterian principle, the precautionary principle, is really crucial and cannot be violated. This is the side that I support, but that does not mean that environmental activists are not open to technological approaches. It is not as if radical ecology has to support some eco-primitivism or return to a pre-modern past. We have to draw on green technologies to decarbonise. We also have to insist on the precautionary principle, which is the condition for transparent democratic and inclusive forms of evaluation and regulations before we enact any form of environmental transformation – from the smallest type of impact to the global widest one. It is problematic for the ecomodernist position to propose the mobilisation of technologies like eco-engineering as a technofix to escape from the dangers of the climate crisis. I think that position is fundamentally flawed and based on potential enormous catastrophic ramifications. Especially since geo-engineering is really risky and can bring unforeseen consequences and on the parts of the world it can affect regional climate systems in ways that aren’t fully understood because there is no democratic accountability, no regulations, no form or global environmental governance. It is a completely unaccountable, non-democratic technoscientific elitist practice. So it is not surprising that places that are playing with this idea of geo-engineering are wealthy countries—the US and European countries—often supported by technocrats and billionaires, like Bill Gates for instance. There is a currently a project at Harvard university, that will represent the first large-scale experiment in the atmosphere of technologies of solar radiation management. That is the first ever, and there is no governance, no debate. We are on a train towards addressing our future through these technological approaches and it is very difficult to get off that train (the so-called ‘locked-in effect’). Mereka dapat datang bersama-sama dalam berbagai cara, walaupun akhirnya prinsip Soterian, prinsip kehati-hatian adalah sangat krusial dan tidak bisa dilanggar. Ini adalah sisi yang saya dukung, namun tidak berarti bahwa aktivis lingkungan tidak terbuka pada pendekatan teknologi. Bukan berarti ekologi radikal harus mendukung eko-primitifisme atau kembali pada masa lalu pra-modern. Kita harus menarik pada teknologi hijau untuk dekarbonisasi. Kita juga harus menekankan pada prinsip kehati-hatian, yang mana adalah kondisi untuk demokratik transparan dan format inklusif dari evaluasi dan regulasi sebelum kita menerapkan bentuk apapun dari transformasi lingkungan — dari tipe dampak paling kecil hingga yang terluas secara global. Adalah problematis untuk posisi ekomodernis untuk mengajukan mobilisasi dari teknologi seperti eko-mesin sebagai solusi tekno untuk lari dari bahaya krisis iklim. Saya pikir posisi ini secara mendasar cacat dan didasarkan pada konsekuensi bencana besar yang potensial. Terutama karena geo-mesin sangatlah beresiko dan dapat membawa konsekuensi yang tidak dapat dilihat dan pada bagian dari dunia dapat mempengaruhi sistem iklim regional dalam cara yang tidak dapat dimengerti sepenuhnya karena tidak ada akuntabilitas demokratik, tanpa peraturan, tanpa bentuk atau pemerintahan lingkungan global. Praktik ini sama sekali tanpa akuntabilitas, non-demokratik tekno-ilmiah elitisme. Jadi tidak mengejutkan bahwa tempat yang bermain dengan ide geo-mesin adalah negara kaya — AS dan negara-negara Eropa — yang seringkali didukung oleh teknokrat dan miliuner, seperti Bill Gates misalnya. Saat ini ada proyek di Universitas Harvard, yang akan mewakilkan eksperimen skala besar pertama dalam atmosfir dari teknologi manajemen radiasi matahari. Ini akan menjadi yang pertama, dan tidak ada pemerintahan, tanpa debat. Kita berada dalam kereta api menuju menyampaikan masa depan kita melalui pendekatan teknologi dan adalah sangat sulit untuk turun dari kereta api ini (yang disebut ‘efek terkunci di dalam’).
#
IMG 2
Space X project, the technoscientific desire to become interplanetary species proyek Space X, keinginan tekno-ilmiah untuk menjadi spesies antar planet.
NC
Geo-engineering is often connected to all kinds of conspiracy theories, like the so-called ‘chemtrails’. In a post-truth era, it becomes increasingly difficult to tell the difference between reality and a conspiracy. How can activists deal with this ambiguity while advocating against technoscience? Geo-mesin seringkali terhubung dengan berbagai teori konspirasi, seperti yang disebut ‘jejak kimia’. Dalam zaman pasca-kebenaran, menjadi semakin sulit untuk membedakan antara realitas dan konspirasi. Bagaimana aktivis menghadapat ambiguitas ini sementara mengadvokasi melawan teknoilmiah?
TJD
If climate change is in the system, then we need to become literate within science. How can we do that in an age of ‘fake news’ and alleged post-truth representations? It is very difficult to verify and know what is going on. I cannot address the issue of chemtrails, but there is a difference between conspiracy theory, media, and legitimate investigative journalism. And yet it is very hard to know what to believe or where it comes from. Even in the most convincing sites of credibility—the major international newspapers—you will find articles that turn out to be untruthful or misleading. It requires a continual investigative approach to media and a critical perception. I always try to ask: Where has the story been generated? How can we verify it with different sources? Who is talking about it? What is their background and credibility? We have to develop these systems of testing in order to tell the difference between conspiracy and critical reporting on scientific research. Jika perubahan iklim berada dalam sistem, maka kita perlu membaca dalam sains. Bagaimana kita dapat melakukan ini dalam zaman ‘berita palsu’ dan menuduh perwakilan pasca-kebenaran? Sangat sulit untuk memverifikasi dan mengetahui apa yang terjadi. Saya tidak dapat menyampaikan isu dari jejak kimia, namun ada perbedaan antara teori konspirasi, media dan jurnalisme investigatif resmi. Dan tetap saja sangat sulit untuk mengetahui apa untuk dipercaya dan darimana mereka datang. Bahkan dalam situs dengan kredibilitas yang meyakinkan — koran internasional utama — anda dapat menemukan artikel yang ternyata menjadi tidak benar atau menyesatkan. Hal ini memerlukan pendekatan investigatif secara terus menerus pada media dana sebuah persepsi kritis. Saya selalu mencoba bertanya: Di mana cerita telah dihasilkan? Bagaimana kita bisa memverifikasi sumber berbeda? Siapa yang berbicara mengenainya? Apa latar belakang dan kredibilitas mereka? Kita telah mengembangkan sistem percobaan ini untuk membedakan antara konspirasi dan pelaporan kritis mengenai riset ilmiah.
NC
We would like to return to the contemporary visual culture surrounding the Anthropocene thesis, which often relies on abstractions, alienating us from what is really going on. If totalising images and representations of the mastery over nature fall short, then taxonomic and scientific representations of species in the nineteenth century certainly did too. While both visual strategies seem to be opposite poles, they have had similar outcomes in thesense that both contribute(d) to the colonisation, exploitation, and economisation of nature as ‘natural capital’. Kita ingin kembali pada budaya visual kontemporer di seputar tesis Antroposen, yang sering mengandalkan abstraksi, mengasingkan kami dari apa yang sebenarnya sedang terjadi. Jika totalisasi gambar dan representasi penguasaan alam tidak tercapai, maka representasi taksonomi dan ilmiah dari spesies di abad kesembilan belas juga terjadi. Sementara baik strategi visual tampak berlawanan kutub, mereka memiliki hasil yang serupa dalam arti bahwa keduanya berkontribusi terhadap kolonisasi, eksploitasi dan ekonomisasi akan alam sebagai ‘modal alam’.
TJD
I think a great study of that gradual process throughout centuries is Jason W. Moore’s book Capitalism in the Web of Life, where he investigates how since the fifteenth century economic arrangements have come together with natural systems. You have ‘capitalism and nature’, and ‘nature and capitalism’—an interdependent development that has moved through early globalisation, colonialism and imperialism processes of researching nature and exploiting it, even when capitalism itself depended on those resources as well. Linnaeus and this taxonomic knowledge is part of the calculating machine of how to exploit those systems. There is a progressive approach to natural capital, which is of course to say that nature is valuable, not simply to human economic systems, but also to the viability of life and its biodiverse forms that have also allowed for humans to exist. The proposal of natural capital is to marketise nature and evaluate its economic worth, not simply as a site of exploitation, but to see what sort of services nature provides in economic terms. According to a number of people, it is a well-intended project, but I still think it is problematically stuck into a mode of thinking economically. This relates to what Foucault called Homo Economicus—the attempt to see everything in monetary terms as if we can only understand value if it is attached to the euro or the dollar. There are also non-economistic cultural approaches to value, like indigenous ones, that see nature as a site of sacredness. If nature has a scared value, then it is infinitely valuable. You cannot put a price tag on that. Saya pikir sebuah studi besar tentang proses bertahap selama berabad-abad adalah buku Jason W. Moore Capitalism in the Web of Life, dimana ia menyelidiki bagaimana sejak pengaturan ekonomi abad kelima belas datang bersamaan dengan sistem alam. Anda memiliki ‘kapitalisme dan alam’, dan ‘alam dan kapitalisme’ — sebuah perkembangan yang saling tergantung yang telah bergerak melalui proses awal globalisasi, kolonialisme dan imperialisme dari meneliti alam dan mengekploitasinya, bahkan ketika kapitalisme itu sendiri bergantung pada sumber daya itu juga. Linnaeus dan pengetahuan taksonomi ini adalah bagian dari mesin penghitung mengenai bagaimana mengekploitasi sistem tersebut. Ada pendekatan progresif terhadap modal alam, yang tentu saja mengatakan bahwa alam itu berharga, tidak hanya untuk sistem ekonomi manusia, tetapi juga terhadap kelangsungan hidup dan bentuk keanekaragaman hayati yang juga memungkinkan keberadaan manusia. Usulan modal alam adalah memasarkan sifat dan mengevaluasi nilai ekonominya, tidak hanya sebagai tempat eksploitasi, tapi juga untuk melihat jenis layanan apa yang disediakan dalam istilah ekonomi. Menurut sejumlah orang, ini adalah proyek yang tepat, tapi saya masih menganggapnya bermasalah dalam cara berpikir secara ekonomi. Hal ini berkaitan dengan apa yang oleh Foucault disebut Homo Economicus — usaha untuk melihat segala sesuatu secara moneter seolah-olah kita hanya bisa memahami nilai jika dikaitkan dengan euro atau dolar. Ada juga pendekatan budaya non-ekomis untuk menghargai, seperti masyarakat adat, yang memandang alam sebagai tempat suci. Jika alam memiliki nilai kesucian, maka itu sangat berharga. Anda tidak bisa memberi label harga pada itu.
NC
The problem is that indigenous values are often dismissed as being ‘irrational’ of ‘unscientific’. Which strategies are available to us in order to counter-hegemonic forms of visualising nature from an economic point of view, in favour of aesthetics that concur with an acknowledgement of the intrinsic value of nature, namely life? Masalahnya adalah bahwa nilai-nilai masyarakat adat sering dianggap ‘tidak rasional’ dari ‘tidak ilmiah’. Strategi yang mana yang tersedia bagi kita untuk bisa melawan bentuk hegemoni dalam memvisualisasikan alam dari sudut pandang ekonomi, yang mendukung estetika yang sesuai dengan pengakuan nilai intrinsik alam, yaitu kehidupan?
TJD
I think we have to begin with a critical understanding of the long history of western, enlightenment modernity as a sociopathological project of environmental suicide. If there is a system that is irrational, then it is that one. If we look at the so-called systems of indigenous, religious cultural values or practices, we have to put in perspective that they have survived thousands and thousand of years without doing terrible global damage to the earth’s natural systems. That is not to idealise indigeneity, because of course there have been cases of animal extinctions and environmental transformations that have been damaging ecosystems. Yet, nothing on the scale of global capitalist modernity, which is putting life, as we know it, at risk. We are in the midst of a mass species extinction event and we know this is a scientific fact. Researchers, like David Wallace-Wells in his article The Inhabitable Earth, are claiming that we are looking at a near future of existence of life on earth that is incompatible with human civilisation. Western Modernity—whether its exists from the fifteenth century to today, or from antiquity to today—is nothing compared to the nearly 50.000 years of indigenous histories. Of course, no one is proposing to return to a pre-modern form of life, but we have to somehow integrate these ways of life and learn from them, instead of continuing to practice a colonial relation where we’re discounting and discriminating against because those conditions of injustice and colonial violence are continuing today. They are continuing in the states and they are continuing all over the world. So, it’s important to point out that we’re not moving into this direction, we’re moving further into the status quo and more forms of technological and ecological violence against people and the planet. My project is an attempt to somehow gather more momentum and join activists and environmental movements as well as indigenous struggles and critical thinkers within the academy. We need a movement of movements to try to reverse this tide towards ecocide and genocide. Saya pikir kita harus mulai dengan pemahaman kritis tentang sejarah panjang modernitas pencerahan barat, sebagai proyek sosiopatologis tentang bunuh diri lingkungan. Jika ada sistem yang irasional, maka inilah itu. Jika kita melihat dengan apa yang disebut sistem adat, nilai tradisi religi dan praktik, kita harus menempatkannya dalam perspektif bahwa mereka telah bertahan selama ribuan dan ribuan tahun tanpa melakukan kerusakan global yang parah dapa sistem alam bumi. Ini bukanlah untuk mengidealisasi sistem adat, karena tentu saja ada kasus-kasus kepunahan hewan dan transformasi lingkungan yang telah merusak ekosistem. Namun, tidak ada satu pun dalam skala modernitas kapitalis global, yang menempatkan kehidupan, seperti yang kita ketahui, beresiko. Kita berada di tengah-tengah peristiwa kepunahan massal dan kita tahu ini adalah fakta ilmiah. Periset seperti David Wallace Wells dalam artikelnya The Inhbitable Earth, mengklaim bahwa kita melihat masa depan yang dekat dengan keberadaan kehidupan di bumi yang tidak sesuai dengan peradaban manusia. Modernitas Barat — apakah yang ada dari abad kelima belas sampai sekarang, atau dari zaman purba sampai sekarang - tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan hampir 50.000 tahun sejarah masyarakat adat. Tentu saja tidak ada yang mengusulkan untuk kembali ke bentuk kehidupan pra-modern, tapi bagaimanapun kita harus mengintegrasikan cara hidup ini dan belajar darinya, alih-alih terus mempraktekkan hubungan kolonial di mana kita melakukan diskon dan diskriminasi karena kondisi ketidakadilan dan kekerasan kolonial terus berlanjut sampai sekarang. Mereka terus berlanjut di negara bagian dan mereka terus berlanjut di seluruh dunia. Jadi penting untuk menunjukkan bahwa kita tidak bergerak ke arah ini, kita bergerak lebih jauh ke status quo dan lebih banyak bentuk kekerasan teknologi dan ekologis terhadap orang dan planet ini. Proyek saya adalah usaha untuk mengumpulkan momentum dengan baik dan bergabung dengan aktivis dan gerakan lingkungan serta perjuangan masyarakat adat dan pemikir kritis dalam akademi. Kita membutuhkan sebuah gerakan dari gerakan untuk mencoba membalikkan arus terhadap bunuh diri lingkungan dan genosida.
NC
In your book, you make a plea for adopting different concepts to name the current condition of the earth. Can concepts, such as the Capitalocene or the Chthulucene, make the complexity of our epoch more comprehensible? How can neologisms be operative across contexts, and be meaningful to people who do not necessarily read theory? Dalam buku anda, anda mengajukan permohonan untuk mengadopsi konsep yang berbeda untuk memberi nama kondisi bumi saat ini. Bisakah konsep, seperti Capitalocene atau Chrhulucene, membuat kompleksitas zaman kita lebih dapat dipahami? Bagaimana neologisme bisa beroperasi lintas konteks, dan bermakna bagi orang-orang yang tidak perlu membaca teori?
TJD
I will give you a couple of different answers. One is that there is a song by Agnes Obel called Words are Dead, which I think speaks to our time, given the fact that we are part of a long societal development that is leading to disaster. We desperately need to think about our systems of communication. How does language provide way of understanding ourselves, each other, life, the history of our people and the future. My analysis of the Anthropocene is to bring out those implications. It’s not just the term, since it does ideologically and politically work. But the Anthropocene tends to disavow political analyses of environmental injustice of the past and privilege technoscientific solutions for the future. So, if we accept the premise that words are dead – that they have become corrupted, that the media has become fake—then maybe we need to reinvent them, and rethink conditions of words. Donna Haraway has for a long time tried to do that. The proposal she is famous for, the Cyborg Manifesto from 1984 when that word came out and started using it no one understood it - it sounded like the movies, like sci-fi or fantasy. But gradually the word starts to fill in meanings and takes on new resonances that have become widespread, like a global reference point for identifying or conditions of techno organic hybridity today, computer systems and artificial intelligence, robotics. It identified something that was going on and provided a language for understanding new conditions of life. Maybe Chthulucene also is such a term. I think that is something she is interested in, in relation to theoretical and speculative fabulation. I do not know if people will be taking it up widely. The idea is of course that we are living at a time that the notion of life’s interdependencies is becoming increasingly recognised and important. We do not exist in a vacuum. We cannot just go to Mars and create a new form of life, even if people are thinking that’ is one solution as well. We depend on all sorts of things, including the bacteria in our digestive systems, for survival. We are part of the web of life and we cannot escape that. So the Chthulucene thesis is an attempt to provide a critical vocabulary to identify that and name the era instead of the Anthropocene, which is again a proposal that is based on the enlightenment idea that humans are somehow discrete, separate and self-sustainable. But that's an irrational, mythological idea. The Chthulucene is a new proposal that is much more realistic than the Anthropocene. Saya akan memberikan anda beberapa jawaban yang berbeda. Salah satunya adalah sebuah lagu oleh Agnes Obel yang disebut Kata-kata Telah Mati, yang menurut saya berbicara dengan zaman kita, mengingat fakta bahwa kita adalah bagian dari perkembangan masyarakat yang panjang penyebab bencana. Kita sangat perlu memikirkan sistem komunikasi kita. Bagaimana bahasa menyediakan cara untuk memahami diri kita sendiri, satu sama lain, kehidupan, sejarah orang-orang kita dan masa depan. Analisis saya tentang Antropocene adalah untuk membawa implikasi tersebut. Ini bukan hanya istilahnya, karena memang secara ideologis dan politis bekerja. Tapi Antroposen cenderung menolak analisis politik tentang ketidakadilan lingkungan dari solusi teknologi ilmiah masa lalu dan hak istimewa untuk masa depan. Jadi jika kita menerima premis bahwa kata-kata telah mati - bahwa mereka telah menjadi rusak, bahwa media telah menjadi palsu - maka mungkin kita perlu menemukan kembali mereka, dan memikirkan kembali kondisi kata-kata. Donna Haraway sudah lama mencoba melakukan itu. Usulan yang membuat ia terkenal, Cyborg Manifesto dari 1984 ketika kata tersebut keluar dan mulai menggunakanya ketika tidak ada yang mengerti — terdengar seperti film, seperti sains-fiksi atau fantasi. Namun secara bertahap kata tersebut mulai mengisi makna dan mengambil resonansi baru yang telah menyebar luas, seperti titik referensi global untuk mengidentifikasi atau kondisi hibriditas teknologi tekno saat ini, sistem komputer dan kecerdasan buatan, robotika. Ini mengidentifikasi sesuatu yang sedang terjadi dan menyediakan bahasa untuk memahami kondisi kehidupan baru. Mungkin Chthulucene juga semacam itu. Saya pikir itu adalah sesuatu yang dia minati, dalam kaitannya dengan fabulasi teoritis dan spekulatif. Saya tidak tahu apakah orang akan mengambilnya secara luas. Gagasannya tentu saja bahwa kita hidup pada saat bahwa gagasan tentang saling ketergantungan hidup semakin dikenal dan penting. Kami tidak ada dalam ruang hampa. Kita tidak bisa hanya pergi ke Mars dan menciptakan bentuk kehidupa baru, bahwa jika orang berpikir bahwa adalah salah satu solusi juga. Kita bergantung pada segala macam hal, termasuk bakteri dalam sistem pencernaan kita, untuk bertahan hidup. Kita adalah bagian dari jaring kehidupan dan kita tidak bisa luput dari itu. Jadi, tesis Chthulucene adalah usaha untuk menyediakan kosakata kritis untuk mengidentifikasi dan memberi nama era alih-alih Antroposen, yang merupakan sebuah proposal yang didasarkan pada gagasan pencerahan bahwa manusia entah bagaimana terpisah, terpisah dan mandiri. Tapi itu ide irasional dan mitologis. Chthulucene adalah proposal baru yang jauh lebih realistis daripada Antroposen.
#
IMG 3
The Chthulucene, tentacular thinking The Chthulucene, pemikiran tentakel
NC
If artists have a role to play in reconfiguring visual culture surrounding the Anthropocene, how can they truly have impact? What are the aesthetics that can contribute to a new visual culture against the Anthropocene? Jika seniman memiliki peran dalam mengkonfigurasi ulang budaya visual seputar Antroposen, bagaimana mereka benar-benar memiliki dampak? Apa estetika yang bisa memberi kontribusi pada budaya visual baru melawan Antroposen?
TJD
I do not think what I am doing is proposing any types of privileged aesthetic approaches. If we need a ‘movement of movements’ then we need a multiplicity of ways of thinking, forms of sensibility, and modes of representation. But we do have to re-examine the constitution of the conventional artistic practices. If we look back historically, they tended to be based within systems of profound inequality. Art history is profoundly patriarchal and white, the way it has been institutionalised within dominant disciplinary systems particularly within the West, but that is becoming opened up with the globalisation of art history and artistic practices. We need to continue thinking about the fact that artistic practices often enclosed contained within institutional systems based within commodification and the idea of the art sold to wealthy patrons. That art system, whichhas been developing for the last hundreds of years is unsustainable, is inequitable and is anti-democratic. Instead, we are in the position where aesthetics—more broadly and outside of the limiting categories of art – is a form of sensibility, the invention of sensible modes of expression, feelings and knowledge. It can provide systems of materialization and visualisation. Not on only of critical environmentalism, or seeing forms of colonialism, or social injustice; they are also providing places of invention and new forms of relationalities, new forms of justice, new modes of environmental sustainability. My current research is investigating some of those forms. For instance the movement of Blockadia, or indigenous forms of protest camps. Like what we saw at Standing Rocks, North Dakota, where they are trying to shut down the Dakota access pipeline. We cannot really say it is an art project but it is not dissociated from aesthetics. It has visual systems, shared modes of sensibility, of knowledge production, of rituals, of visualisations. We see that happening in Indonesia, WHERE there are interesting practices that are focussing on mining, on palm oil, the plantationoscene, dealing with forms of environmentalism and history of social violence and colonialism there. Saya tidak berpikir apa yang saya lakukan adalah mengusulkan jenis pendekatan estetika yang istimewa. Jika kita membutuhkan ‘gerakan dari gerakan’ maka kita membutuhkan banyak cara berpikir, bentuk sensibilitas, dan cara representasi. Tapi kita harus memeriksa kembali konstitusi praktik artistik konvensional. Jika kita melihat ke belakang secara historis, mereka cenderung didasarkan pada sistem ketidaksetaraan yang dalam. Sejarah seni sangat patriarkal dan putih, seperti yang telah dilembagakan dalam sistem disipliner yang dominan terutama di Barat, namun in menjadi terbuka bagi globalisasi sejarah seni dan praktik artistik. Kita perlu terus memikirkan fakta bahwa praktik artistik sering tertutup dalam sistem kelembagaan yang berbasis komodifikasi dan gagasan tentang seni yang dijual kepada pelanggan kaya. Sistem seni yang telah berkembang selama ratusan tahun terakhir ini tidak berkelanjutan, tidak adil dan anti-demokrasi. Sebaliknya kita berada dalam posisi di mana estetika — lebih luas dan jauh dari kategori seni yang membatasi — adalah bentuk kepekaan, penemuan mode ekspresi, perasaan dan pengetahuan yang masuk akal. Ini bisa memberikan sistem perwujudan dan visualisasi. Bukan hanya karena environmentalisme kritis, atau melihat bentuk kolonialisme, atau ketidakadilan sosial; mereka juga menyediakan tempat-tempat penemuan dan bentuk-bentuk relasionalitas baru, bentuk keadilan baru, mode baru kelestarian lingkungan. Penelitian saya saat ini sedang menyelidiki beberapa bentuk itu. Misalnya gerakan Blockadia, atau bentuk-bentuk asli dari kamp-kamp protes. Seperti yang kita lihat di Standing Rocks, North Dakota, di mana mereka mencoba menutup jalur akses Dakota. Kita tidak bisa benar-benar mengatakan bahwa ini adalah proyek seni tapi tidak terlepas dari estetika. Ini memiliki sistem visual, mode kepekaan bersama, produksi pengetahuan, ritual, visualisasi. Kami melihat hal itu terjadi di Indonesia, DIMANA ada praktik menarik yang berfokus pada pertambangan, perkebunan kelapa sawit, suasana perkebunan, berurusan dengan bentuk-bentuk environmentalisme dan sejarah kekerasan sosial dan kolonialisme di sana.
#
IMG 4
Environmental Justice Map, A Map of Resistance against Fossil Fuels for Climate Justice by Blockadia Peta Keadilan Lingkungan, Peta Perlawanan terhadap Bahan Bakar Fosil untuk Keadilan Iklim oleh Blockadia
NC
Thinking about the types of practices you mentioned, we would like to ask a question that often comes up: How do we deal with cultural appropriation and the recuperation of indigeneity within the art context, where indigenous values are often institutionalised (think of the youngest Documenta) and capitalised on? Berpikir tentang jenis-jenis praktik yang Anda sebutkan, ada pertanyaan yang sering muncul: Bagaimana cara menangani perampasan budaya dan pemulihan kualitas masyarakat adat dalam konteks seni, di mana nilai-nilai masyarakat adat sering dilembagakan (pikirkan Documenta yang paling muda) dan yang dikapitalisasikan?
TJD
I think we have to decolonise our research methodologies. It is important, for example, for research in Indonesia to question how people based in Indonesia can be brought to the leadership of research projects. How can they be integrated in processes of decision-making that matter to what is happening with the research? This relates to Isabel Stengers proposal of cosmopolitics, a politics of world making. For her, it is crucial that the most vulnerable, the least resourced, the most disadvantaged people are brought to the table where the conversations are being had to decide about our future. For me, with a white male identity, based in North America, working within the academy, and leading a research centre for Creative Ecologies, that is something I am interested in moving towards. There are huge barriers to doing this, but we have to continue to be on the look for ways of attacking the appropriative colonial methodology. The answer is listening and engaging a meaningful dialogue between the people who are leading the research and those who are the subjects of research. Saya pikir kita harus mendekolonisasi metodologi penelitian kami. Penting, misalnya, untuk penelitian di Indonesia mempertanyakan bagaimana orang-orang yang berbasis di Indonesia dapat dibawa ke pimpinan proyek penelitian. Bagaimana mereka bisa diintegrasikan dalam proses pengambilan keputusan yang penting bagi apa yang sedang terjadi dengan penelitian? Hal ini berkaitan dengan usulan Isabel Stengers tentang kosmopolitan, sebuah politik dunia. Baginaya, sangat penting bagi orang yang paling rentan, yang paling tidak memiliki sumber daya, orang-orang yang paling tidak beruntung dibawa ke meja di mana percakapan harus dipikirkan tentang masa depan kita. Bagi saya, dengan identitas laki-laki kulit putih, yang berbasis di Amerika Utara, bekerja di akademi, dan memimpin sebuah pusat penelitian untuk Ekologi Kreatif, itulah sesuatu yang saya minati. Ada hambatan besar untuk melakukan ini, tapi kita harus terus mencari cara untuk menyerang metodologi kolonial yang tepat. Jawabannya adalah mendengarkan dan melibatkan dialog yang bermakna antara orang-orang yang memimpin penelitian dan mereka yang menjadi subyek penelitian.