next contribution kontribusi berikutnya

Natural Capital — Editorial Modal Alam - Pengantar

Charlotte Dumoncel d’Argence and Laura Herman

I. DISCLAIMER I. Pernyataan Penyangkalan (Disclaimer)

The premise of the Europalia Curator’s Award — as stipulated in the open call we applied to in December 2016 — was based on offering resources for emerging curators to develop a project with three artists living and working in Belgium. The project’s charge was to address the large subject of biodiversity in relation to ecological questions in the equally vast and diverse nation of Indonesia. The winning curators, along with the selected artists, would be given the opportunity to go on a journey to the Indonesian archipelago in order to inspire the content of their proposed project. Premis Penghargaaan Kurator Europalia – sebagaimana ditetapkan dalam ajakan terbuka yang kami ajukan pada bulan Desember 2016 – didasarkan pada penawaran sumber daya untuk kurator muda untuk mengembangkan proyek dengan tiga seniman yang tinggal dan bekerja di Belgia. Tuntutan proyek ini adalah untuk menyampaikan subjek besar mengenai keanekaragaman hayati dalam hubungannya dengan pertanyaan ekologis yang luas dan bangsa yang beragam dari Indonesia. Para kurator yang lolos, dengan seniman yang terpilih, akan diberikan kesempatan untuk melakukan perjalanan ke Kepulauan Indonesia untuk menginspirasikan isi dari proyek yang diajukan mereka.

In our application, we initially expressed serious doubts over these given grounds on which to develop our proposal. Rather than claiming that five Europeans traveling to a far away place would even be able to go through a meaningful experience and return with new insights about issues of biodiversity, we asked: what would it mean to simply stay at home? How could we ‘know’ a subject or place solely as the result of a filtered or mediated experience and aesthetic, placed at a remove from the ‘authentic’, or the ‘real’ confrontation? After all, palm oil moistens our lips and skins, and smiling, endangered species feature happily on our cereal packaging. Dalam aplikasi kami, pada awalnya kami menyampaikan keraguan yang serius pada yang diberikan dalam mengembangkan proposal kami. Daripada mengklaim lima orang Eropa melakukan perjalanan ke tempat yang jauh apakah bahkan dapat melalui pengalaman yang berarti dan kembali dengan wawasan mengenai isu keanekaragaman hayati, kami bertanya: apa artinya dengan hanya tinggal di rumah? Bagaimana kami dapat “mengetahui” sebuah subjek atau tempat hanya berdasarkan hasil yang disaring atau pengalaman dimediasi dan estetika ditempatkan keluar dari konfrontasi yang ‘otentik’ atau pun ‘asli’? Lagipula, minyak kelapa sawit melembabkan bibir dan kulit kita, dan spesies yang terancam penuh tersenyum bahagia dalam dus sereal kita.

Admittedly, we were only scratching the surface, and cultural diplomacy, of course, has its own ways. We were finally persuaded to travel to Indonesia, each of us defining our own itineraries. During those weeks in the country, we traveled to different sites and places, enthralled by volcanoes and mangroves, tricked into the spectacle of lush nature. In fairness, we were more inclined to explore the global stakes and agendas behind modes of representing the ‘natural world’ than to work around the specificity and complexity of Indonesian biodiversity, which we felt was not ours to speak about. Finally, we pulled our eyes away from Internet articles, imperial travelogues, and business plans, in favour of real encounters and conversations with artists and activists across Indonesia, whose first-hand experiences put the information we had consumed in a different light. Kami mengakui, bahwa kami hanya menggaruk permukaan saja, dan diplomasi budaya, tentu saja, memiliki caranya sendiri. Akhirnya kami diyakinkan untuk melakukan perjalanan ke Indonesia, masing-masing dari kami mendefinisikan perjalanan kami sendiri. Pada minggu-minggu di negara itu, kami melakukan perjalanan ke situs dan tempat berbeda, terpesona dengan gunung berapi dan hutan bakau, ditipu dengan tontonan alam yang subur. Sejujurnya, kami lebih condong untuk mengksplorasi taruhan global dan agenda di belakang mode dalam mewakili ‘dunia alami’ daripada mengusahakan kekhasan dan kompleksitas dari keanekaragaman hayati Indonesia, yang mana kami merasa bukanlah milik kami untuk kami berbicara. Pada akhirnya, kami mengalihkan pandangan kami dari artikel internet, catatan perjalanan kekaisaran dan rencana bisnis, yang mendukung pertemuan nyata dan percakapan dengan seniman dan aktivis di seluruh Indonesia, yang mana pengalaman tangan pertama menempatkan informasi yang kami konsumsi dalam cahaya yang berbeda.

In eco-lobbying, Indonesia is often described as the planet’s second largest ‘biodiversity hotspot’, a phrase that is both a blessing and a curse. Defining a biogeographic region that is at once both a rich reservoir of biodiversity and threatened with destruction, this terms is associated with different modes of representation — think of images of exotic tropical resorts in tourist guides or scenes of massive monoculture plantations in documentary photography. Yet images of biodiversity hotspots only offer a partial view. Their high profile of coincides with a tendency to concentrate conservation efforts on zones in the world with high terrestrial concentrations of endemic species, in order to be more ‘effective’ and ‘impactful’, while disregarding less diverse areas. Dalam eko-lobi, Indonesia seringkali dideskripsikan sebagai ‘hotspot keanekaragaman hayati’ terbesar kedua di planet ini, sebuah ungkapan yang merupakan berkah dan kutukan. Mendefinisikan sebuah wilayah biogeografis yang sekaligus merupakan gudang keanekaragaman hayati dan terancam dengan penghancuran, istilah ini diasosiasikan dengan berbagai cara representasi – bayangkan gambar resor tropis eksotis dalam panduan turis atau pemandangan perkebunan masif monokultur dalam fotografi dokumenter. Namun, gambar hotspot keanekaragaman hayati hanya menawarkan pandangan sebagian. Profil tinggi mereka kebetulan bertepatan dengan kecenderungan untuk mengkonsentrasikan upaya konservasi di zona-zona dunia dengan konsentrasi terestrial tinggi dari spesies endemik, agar lebih ‘efektif’ dan ‘berdampak penuh’, sambil mengabaikan area yang kurang beragam.

Through our research, we found out that the ways in which nature is mediated, represented, spoken of, and consumed, are closely intertwined with the emergence of several concepts: the ‘economy of nature’ (Oeconomia) in the eighteenth century; ‘ecology’ (Oecologia) in the nineteenth century; and ‘natural capital’ from the 1970s onwards. Through diverse approaches by contributors from Indonesia, Belgium, and elsewhere, this online publication seeks to address the processes of making and unmaking the ‘natural world’. Melalui riset kami, kami menemukan bahwa cara di mana alam dimediasikan, direpresentasikan, dibicarakan, dan dikonsumsi, saling terkait erat dengan kemunculan beberapa konsep: ‘ekonomi alam’ (Oeconomia) di abad kedelapan belas; ‘ekologi’ (Oecologia) di abad kesembilan belas; dan ‘modal alam’ dari tahun 1970an dan selanjutnya. Melalui beragam pendekatan oleh kontributor Indonesia, Belgia dan tempat lainnya, publikasi online ini berupaya menangani proses pembuatan dan menghentikan pembuatan dari ‘dunia alami’.

#
IMG 1
The mediation of experiences of nature. Europe's largest tropical holiday resort in Krausnick, Germany Mediasi dari pengalaman akan alam. Resor tropis liburan terbesar di Eropa, di Krausnick, Jerman.

II. SCIENCE AND THE MASTERY OVER NATURE Sains dan Penguasaan terhadap Alam

When did nature become a marketplace? The contemporary notion of ‘nature as economy’ has its roots in nineteenth century, colonial, scientific discovery and eco-imperialist narratives, influenced by the legacy of the eighteenth century, Swedish natural scientist Carl Linnaeus, the father of modern taxonomy. In his dissertation Oeconomia naturae (1749), Linnaeus described the ‘economy of nature’ as its orderliness and its harmonious equilibrium. Linnaeus’ classification theory, though stereotypical and erroneous, shaped work by naturalists such as Charles Darwin, who in turn influenced German biologist Ernst Haeckel in the foundation of ecology as a discipline. In the making of natural knowledge by means of systemic illustrations, maps, tables, and diagrams of species, Linnaeus contributed to the construction of new rational systems of classifying nature.1 One could argue that Linnaeus’ foundational work, based as it was around ‘notions of equilibria’ as ‘checks and balances and feedback loops’,2 already served as the groundwork for understanding nature as capital. Sejak kapan alam menjadi pasar? Gagasan kontemporer dari ‘alam sebagai ekonomi’ berakar dari abad kesembilan belas, kolonial, penemuan ilmiah dan narasi eko-imperialis, dipengaruhi dengan warisan dari abad kedelapan belas, ilmuwan alam Swedia Carl Linnaeus, bapak dari taksonomi modern. Dalam disertasinya Oeconomia naturae (1749), Linnaeus menggambarkan ‘ekonomi alam’ dalam keteraturan dan keseimbangan harmonis. Teori klasifikasi Linnaeus, meski stereotip dan keliru, berbentuk karya naturalis seperti Charles Darwin, yang pada gilirannya mempengaruhi ahli biologi Jerman Ernst Haeckel dalam pondasi ekologi sebagai disiplin. Dalam pembuatan pengetahuan alam dengan mengunakan ilustrasi sistemik, peta, tabel, dan diagram dari spesies, Linnaeus mengkontribusikan pada konstruksi dari sistem rasional baru dari klasifikasi alam.[1] Orang dapat berargumen dengan kerja fondasi Linnaeus, berdasarkan dengan “konsep keseimbangan” sebagai “cek dan kesetimbangan dan masukan putaran”,[2] telah menjadi dasar untuk memahami alam sebagai modal.

#
IMG 2
Table of the Animal Kingdom (Regnum Animale) from Carolus Linnaeus’s first edition (1735) of Systema Naturae. Tabel dari Kerajaan Binatang (Regnum Animale) dari edisi pertama Carolus Linnaeus (1735) dari Systema Naturae.

The financialisation of nature is undoubtedly one of the outcomes of the systems of classification and ecology’s disciplinary formation he and other naturalists introduced; a supposedly objective and rational understanding of the natural world, closely linked to heroic discovery and colonial mastery over nature.3 Colonial scientists used Latin, a dead language, to name living matter, further decontextualising and alienating specimens from their locality all the while ignoring the complex and long-standing local and botanical knowledge of indigenous societies. This indifference toward indigenous knowledge still holds today, as CELIA LOWE argues in her contribution Making The Monkey — a plea for a ‘postcolonial refiguration, not only of how science’s matter is made but of where and by whom’. In the island archipelago of the Dutch East Indies (now the Republic of Indonesia), it was Alfred Russel Wallace who was making nature by structurally assembling a large collection of animals and plants. Describing and visualising them as scientific specimens in his travel chronicles, he too reinforced a Cartesian dualism between human and nonhuman, contributing — perhaps unwittingly — to the modern devaluation of diverse life-forms. Pengalokasian alam tidak dapat diragukan adalah salah satu hasil dari sistem klasifikasi dan pengaturan disiplin ekologi yang dia dan naturalis lainnya perkenalkan; pemahaman obyektif dan rasional akan dunia alami, terkait erat dengan penemuan heroik dan penguasaan kolonial atas alam.[3] Para ilmuwan kolonial menggunakan bahasa Latin, bahasa mati, untuk menamakan materi kehidupan, mendekonteksualisasikan lebih lanjut dan mengasingkan spesimen dari wilayah mereka sementara mengabaikan pengetahuan lokal dan botani lokal yang kompleks yang sudah berdiri lama dari masyarakat adat. Ketidakpedulian terhadap pengetahuan masyarakat asli masih berlaku sampai sekarang, sebagaimana Celia Lowe beargurmen dalam kontribusinya Menciptakan si Monyet – sebuah permohonan untuk “perbaikan poskolonial, tidak hanya tentang bagaimana masalah sains dibuat, tetapi di mana dan oleh siapa”. Di kepulauan Hindia Belanda (sekarang Republik Indonesia) adalah Alfred Russel Wallace yang membuat alam dengan menyusun secara struktural koleksi besar dari binatang dan tanaman. Menggambarkan dan memvisualisasikan mereka sebagai spesimen ilmiah dalam kronik perjalanannya, ia juga memperkuat dualisme Cartesian antara manusia dan non-manusia, berkontribusi – mungkin tanpa disadari – untuk devaluasi modern dari bentuk kehidupan yang beragam.

#
IMG 3
Large fold-out coloured map at front of Alfred Russel Wallace's book The Malay Archipelago., Macmillan, 1869 Gambar Katak Terbang dari buku Alfred Russel Wallace, The Malay Archipelago.

Simultaneously, developments in cartography and ethnographic modes of representation played a role in the appropriation and exploitation of nature. The design of maps, as grids laid over natural landscapes, turned insular, opaque, illegible land, into visible, controllable territory and resources. One of the most renowned colonial maps is the meticulously detailed map of Java by the Dutch-German botanist and geologist Friedrich Franz Wilhelm Junghuhn, which ‘provided both evidence of the colonised territory and an instrument for its further domination.’4 Not only did the map serve as an imperial weapon of ‘colonial domination guiding explicit military campaigns’, it also facilitated ‘resource extraction and plantation management’.5 This spatial colonisation, through strategies of both literally and metaphorically mining the landscape’s resources was accompanied by a cultural colonisation, supported and made visible by the Mooie Indie movement. Exemplifying the concept of the ‘aesthetical service’ provided by nature — a discreet and insidious application of the notion of natural capital — , artists of the Dutch Indies specialised in a genre of painting which captured romantic depictions of the country; landscape scenes, showing volcanoes, mountains, river valleys, and villages emerging in golden sunshine. The style Mooie Indie, its title coming from the eponymous series of paintings by the Dutch artist Fredericus Jacobus van Rossum du Chattel, contributed to propagating an image of an idyllic nature, conceived for our enjoyment. Far before any form of digital imagery or photo documentation, artists were playing a crucial role in mediating Indonesia’s natural landscape to the world. Secara bersamaan, perkembangan mode representasi kartografi dan etnografi berperan dalam perampasan dan eksploitasi alam. Rancangan peta, sebagai kisi yang ditaruh di landskap alam, merubah tanah yang tidak rata, buram, tidak terbaca menjadi wilayah dan sumber daya yang dapat dikontrol. Satu dari peta kolonial yang paling terkenal adalah peta Jawa yang sangat rinci oleh ahli botani Belanda-Jerman dan ahli geologi Friedrich Franz Wilhem Junghuhn, yang “menyediakan bukti dari wilayah penjajah dan instrumen untuk dominasi yang lebih lanjut.”[4] Peta ini tidak hanya peta yang berfungsi sebagai senjata kekaisaran dari “dominasi kolonial memandu kampanye militer secara eksplisit”, tapi juga memfasilitasi “pengambilan sumber daya dan pengelolaan perkebunan”.[5] Kolonialisasi spasial ini melalui strategi bagi secara literer dan secara metafor menambang sumber daya landskap yang ditemani dengan kolonialisasi budaya, didukung dan terlihat ada dengan gerakan Mooie Indie. Contoh-contoh dari ‘jasa estetik’ yang disediakan oleh alam – penerapan yang bijaksana dan tersembunyi dari pengertian modal alam –, seniman Hindia Belanda yang berspesialisasi dalam genre lukisan yang mana penggambaran romantis dari negeri ini; pemandangan landskap, gunung berapi, gunung, lembah sungai dan desa yang muncul dalam sinar matahari keemasan. Gaya Mooie Indie, yang mana judulnya muncul dari serial lukisan eponim oleh seniman Belanda Fredericus Jacobus van Rossum du Chattel, yang berkontribusi untuk menyebarkan imaji dari alam yang sangat indah, dibuat untuk kenikmatan kita. Jauh sebelum adanya gambar digital atau dokumentasi foto, seniman memainkan peran yang krusial dalam memediasikan landskap Indonesia pada dunia.

#
IMG 4
Drawing of a Flying Frog from Alfred Russel Wallace's book The Malay Archipelago. Peta besar berlipat pada bagian depan buku Alfred Russel Wallace, The Malay Archipelago, Macmillan, 1869

In turn, nineteenth-century colonial discovery, research, and exoticism paved the way for the development of a Global North tourism industry which relies on cheap travel, experiences of ‘difference’, and sex work. Throughout the twentieth century, economic, cultural, and environmental injustice remained firmly in place in Indonesia, despite the country’s colonial independence, evidenced, for example, by deforestation, the displacement of peoples and animals, the depletion of the earth’s resources, and the exploitation of cheap and unpaid labor. On the other hand, awareness about the planet’s fragility and uniqueness slowly grew. In 1969, architect Buckminster Fuller published his acclaimed essay Operating Manual for Spaceship Earth6,offering an apt metaphor for a new ideal of planetary management. Yet universalising ideas of a ‘whole earth’, a ‘Blue Marble’, or a new ‘ecology’ as a systems-oriented view of the natural world proved to be biased and incomplete, once again representing the world as a totality to be governed. Pada gilirannya, penemuan, penelitian dan eksotisme kolonial abad kesembilan belas membuka jalan untuk pengembangan industri pariwisata Global Utara yang bergantung pada perjalanan murah, pengalaman “berbeda”, dan pekerjaan seks. Melalui abad kedua puluh, ketidakadilan ekonomi, budaya dan lingkungan tetap terjaga di Indonesia, terlepas dari kemerdekaan kolonial negara tersebut, yang dibuktikan, misalnya, oleh pengundulan hutan, pemindahan manusia dan binatang, penipisan sumber daya bumi, eksploitasi tenaga kerja murah dan tidak dibayar. Di sisi lain, kesadaran mengenai kerapuhan planet dan keunikannya secara perlahan tumbuh. Pada tahun 1969, arsitek Buckminster Fuller mempublikasikan esai yang diakui, Operating Manual for Spaceship Earth (Manual Pengoperasian untuk Kapal Ruang Angkasa Bumi)[6], menawarkan metafor yang tepat untuk cita-cita baru pengelolaan planet. Namun konsep menguniversialisasikan “keseluruhan bumi”, atau “Marmer Biru” atau “ekologi” baru sebagai pandangan dunia yang berorientasi pada dunia alami terbukti sebagai bias dan tidak lengkap, sekali lagi mewakili dunia sebagai keseluruhan yang harus diatur.

Against these grand narratives which have developed into technocratic approaches to the earth (including the Anthropocene discourse), eco activists and artists have developed practices and research that bring in new ecological imaginaries, paying attention to the personal and particular. Uncovering the logics and mechanisms of natural capital, the artists and theorists invited within the framework of this online publication explore different representations and understandings of nature, offering alternatives to the current ‘corporate control of life owing to neoliberal globalisation, international trade policies, deregulated environmental protections, and the patenting of biological matter’.7 Melawan naratif besar ini yang telah berkembang menjadi pendekatan teknokratik pada bumi (termasuk wacana Anthroposen), aktivis lingkungan dan seniman mengembangkan praktik dan penelitian yang membawa imajinasi ekologis baru, memperhatian pada yang personal dan khusus. Mengungkapkan logika dan mekanisme dari modal alam, seniman dan ahli teori mengundang ke dalam kerangka publikasi online ini mengeksplorasi berbagai representasi yang berbeda dan pemahaman tentang alam, menawarkan alternatif terhadap “kontrol perusahaan akan hidup berhutang pada globalisasi neoliberal, kebijakan perdagangan internasional, deregulasi lingkungan perlindungan, dan pematenan dari materi biologis” yang terjadi sekarang.

III. DECONSTRUCTING NATURAL CAPITAL Mendekonstruksi Modal Alam

The economic value of Indonesia’s Leuser ecosystem services - including two mountain ranges, three lakes, nine river systems, and three national parks - is estimated at 23 billion dollar per year by environmental NGOs. Where one might imagine clean oceans and healthy forests to be priceless, they are often understood as global assets valued in economic terms as ‘natural capital’. The term ‘natural capital’ was coined by Ernst Friedrich Schumacher in 1973 as an economic concept that we have come to understand as the world’s assets of natural resources — such as air, water, and soil — capable of flowing into goods and services. The idea of describing natural resources not as ‘income’ but as ‘capital’ subject to depletion coincided with a growing awareness of the value of nature. But by describing the value of nature only in economic terms, we collapse its intrinsic worth into a system of capital flow and exchange, rather than bearing with other possible narratives such as speculation or care. No doubt, there must be more liberating and emancipatory concepts to describe the natural commons than their current management, quantification, and representation under the banner of ‘natural capital’. Nilai ekonomi dari layanan ekosistem Leuser Indonesia – termasuk dua wilayah pegunungan, tiga danau, sembilan sistem sungai, dan tiga taman nasional – dihitung kira-kira sebesar $23 miliar per tahun oleh LSM lingkungan. Di mana orang bisa membayangkan samudera bersih dan hutan yang sehat menjadi tidak ternilai harganya, mereka sering dipahami sebagai aset global dalam istilah ekonomi sebagai ‘modal alam’. Istilah ‘modal alam’ diciptakan oleh Ernst Friedrich Schumacher pada tahun 1973 sebagai konsep ekonomi yang telah kita pahami sebagai aset sumber daya alam dunia – seperti udara, air, dan tanah – yang mampu mengalir menjadi barang dan jasa. Gagasan untuk menggambarkan sumber daya alam bukan sebagai “pendapatan” tapi sebagai “modal” pada deplesi bertepatan dengan kesadaran yang tumbuh akan nilai dari alam. Tetapi dengan menggambarkan nilai alam hanya dalam istilah ekonomi, kita kehilangan nilai intrinsiknya ke dalam sistem aliran modal dan pertukaran, daripada membawa pada kemungkinan narasi lainnya seperti spekulasi atau perawatan. Tidak diragukan lagi, harus ada konsep yang lebih membebaskan dan emansipatoris untuk menggambarkan kepemilikan umum dalam pengelolaan mereka, kuantifikasi, dan representasi mereka saat ini di bawah bendera ‘modal alam’.

Dealing with this hegemonic treatment of the natural world while still being aware of the contemporary filters through which the experience of nature is mediated, the contributors to this online publication engage with languages and visualisations of nature that attempt to thwart the abstractions of natural capital. Yet, these investigations equally question whether the channels that allow us to mediate and exchange alternative forms of knowledge and experience — such as travel, cultural diplomacy, the media, and the Internet — are capable of transmitting a genuine understanding. We have to be attentive and critical to the rhetorics surrounding site and place. Berurusan dengan perlakuan hegenomik dari dunia alam sementara masih sadar dengan filter kontenporer yang melaluinya pengalaman dimediasi, kontributor publikasi online ini melibatkan dengan bahasa dan visualisasi dari alam yang mencoba untuk mengagalkan abstraksi modal alam. Namun, penyelidikan ini dengan seimbang menanyakan pertanyaan apakah saluran yang memungkinkan kita untuk menengahi dan menukarkan bentuk alternatif dari pengentahuan dan pengalaman – seperti perjalanan, diplomasi kebudayaan, media dan internet – sanggup untuk mentransmisi pemahaman yang sebenarnya. Kita harus memerhatikan dan kritis terhadap retorika dari situs dan tempat sekitar.

#
IMG 5
A global map of terrestrial and marine natural capital assets. Source: The UNEP Global Natural Capital pilot project. Peta global global aset modal darat dan laut. Sumber: Proyek percontohan UNEP Global Natural Capital

As T.J. Demos has argued, the omnipresent visual representation and terminology of the
Anthropocene, 8 sustains neoliberalism’s subjection of nature to an economic calculus. Along those lines, Christophe Bonneuil and Jean-Baptiste Fressoz have warned of the manipulative and biased ways in which nature is presented by ‘such phenomena as lobbying, storytelling, rebound effect, technological coup, greenwashing, recuperation of criticism, complexification, banalisation or a simulated taking into account.’ 9 So what can we then do? According to Demos, we need to develop an alternative visual culture and vocabulary in order to combat the geoengineering solutions offered by techno-utopians whose visual culture ‘reinforces humanity’s mastery of nature through digital satellite photography and data visualizations in the form of maps, graphs, and virtual simulations.’ 10 In this regard, we can observe a change. New voices are advocating different scenarios and we cannot help but notice that women are at the forefront in developing new paradigms.
Sebagaimana T.J. Demos berpendapat, representasi kehadiran visual dan terminologi dari Anthroposen di mana-mana,[8] menopang penindasan neoliberalisme terhadap alam ke kalkulus ekonomi. Di sepanjang garis itu, Christophe Bonneuil dan Jean-Baptiste Fressoz telah memperingatkan mengenai cara manipulatif dan bias di mana alam disajikan oleh oleh “fenomena seperti lobisasi, penceritaan, efek memantul, kudeta teknologi, greenwashing, penyembuhan kritik, pembasmian, pembalasan dendam atau simulasi untuk dipertimbangkan.”[9] Jadi apa yang bisa kita lakukan? Menurut Demos, kita perlu untuk mengembangkan budaya visual dan kosakata alternatif untuk memerangi solusi perekayasaan kebumian yang ditawarkan oleh kelompok utopia-tekno yang budaya visualnya “memperkuat penguasaan manusia terhadap alam melalui fotografi satelit digital dan data visualisasi dalam bentuk peta, grafik dan simulasi virtual.”[10] Dalam hal ini kita bisa mengamati perubahan. Suara baru menganjurkan skenario berbeda dan kami tidak dapat tidak memerhatikan bahwa perempuan berada di garis terdepan dalam mengembangkan paradigma baru.

In her book The Word for World is Forest11, a fictional scenario of the destruction of the planet’s resources, Ursula K. Le Guin revokes the understanding and management of the world by white men, deconstructing the logic of our current exploitation of nature on Earth. Anna Lowenhaupt Tsing, too, has led us to turn our attention to local struggles around Indonesian tropical rainforests and to the possibility of multispecies landscapes to survive despite capitalist destruction. Not to forget, of course, the important and influential work of the true eco-heroine Donna Haraway whose famous phrase ‘staying with the trouble of our times’ keeps resonating with us, and convinced us of the importance of taking responsibility towards our inherited damages, rather than finding recourse to quick technofixes. Dalam bukunya The Word for World is Forest (Kata untuk Dunia adalah Hutan)[11], skenario fiktif mengenai penghancuran sumber daya planet, Ursula K. Le Guin mencabut pemahaman dan pengelolaan dunia oleh orang kulit putih, mendekonstruksi logika eksploitasi alam bumi kita saat ini. Anna Lowenhaupt Tsing, juga, telah membawa kita untuk memerhatikan perjuangan lokal di sekitar hutan tropis Indonesia dan kemungkinan landskap multispesies untuk bertahan hidup meski penghancuran dilakukan oleh kaum kapitalis. Tidak dilupakan juga, tentu saja, kerja yang penting dan berpengaruh dari tokoh pahlawan linkungan perempuan sejati Donna Haraway yang kata-kata terkenalnya “tetaplah bersabar untuk saat-saat kita” terus bergaung dengan kami, dan meyakinkan kami pentingnya untuk mengambil tanggung jawab dalam kerusakan yang diwariskan, daripada mencoba mencari pembalikkan dengan solusi teknologi cepat.

How can we continue to critically develop new strategies and solutions other than the ones that belong to technoscience and capitalism and act in ways that are ‘less naïve than the grand narrative of an awakening of awareness’? 12 From various angles and through different media, the contributors of naturalcapital.online address the relationship between knowledge, nature, and value. They look into what kind of knowledge and strategies are needed to speak meaningfully about nature. By bringing in more sensorial, poetic, and intuitive approaches (MARTIN BELOU), joined with local accounts (SETU LEGI, MIRA ASRININGTYAS), minor narratives (BAKUDAPAN, ELISABETH IDA, RACHEL MONOSOV), ‘unscientific’ forms of representation (SYAIFUL GARIBALDI, FILIP VAN DINGENEN, ADRIEN VERMONT, ADRIEN MISSIKA), non-anthropocentric experiences (YUKI AGRIARDI, DAVID O’REILLY), and different ethics or politics in caring for the environment (YASMINE OSTENDORF), the contributors retrieve a more direct experience of nature. The contributions often return to the concrete and the personal, at times referring to animism and rituals which, though still strong in Indonesia, are too often dismissed as irrational and unscientific. Other contributors deconstruct and question the processes of the scientific production of nature (CELIA LOWE), the economic logic of turning life into financial assets (COOKING SECTIONS, ALEXIS GAUTIER, JIMMY HENDRICKX), the visual culture surrounding natural capital (T.J. DEMOS), and the artificiality of a natureculture (OFFSHORE STUDIO), asking for more emancipatory ways to deal with biodiversity. As Bonneuil and Fressoz have put it, ‘to strive for decent lives means freeing ourselves from repressive institutions, from alienating dominations and imaginaries. It can be an extraordinary emancipatory experience.’ 13 By allowing abstraction, opacity, and poetry to come in, perhaps we can attribute other forms of value to our environment than those of ‘natural capital’. Bagaimana kita dapat terus menerus secara kritis mengembangkan strategi dan solusi baru selain mengembangkan teknologi dan kapitalisme dan bertindak dengan cara yang “kurang naif daripada narasi besar dari kebangkitan kesadaran”?[12] Dari berbagai sudut pandang dan melalui media berbeda, kontributor dari naturalcapital.online membahas hubungan antara pengetahuan, alam dan nilai. Mereka melihat ke dalam jenis pengetahuan dan strategi apa yang dibutuhkan untuk berbicara secara bermakna tentang alam. Dengan menghadirkan pendekatan yang lebih sensoris, puitis dan intuitif (Martin Belou), bergabung dengan nama lokal (Setu Legi, Mira Asriningtyas), naratif minor (Bakudapan, Elisabeth Ida, Rachel Monosov), bentuk ‘tidak ilmiah’ dari representasi (Syaiful Garibaldi, Filip Van Dingenen, Adrien Vermont, Adien Missika), pengalaman non-antroposentris (Yuki Agriardi, David O’Reilly), dan etika berbeda atau politik dalam merawat lingkungan (Yasmine Ostendorf), kontributor mendapatkan pengalaman alam yang lebih langsung. Kontribusi terkadang sering kembali kepada yang konkrit dan personal, terkadang mengacu pada animisme dan ritual yang, meskipun masih kuat di Indonesia, terlalu sering dianggap tidak masuk akal dan tidak ilmiah. Kontributor lainnya mendekonstruksi dan mempertanyakan proses dari produksi ilmiah alam (Celia Lowe), logika ekonomi dalam mengubah kehidupan menjadi aset keuangan (Cooking Sections, Alexis Gautier, Jimmy Hendrickx), budaya visual di sekeliling modal alam (T.J. Demos), dan artifisialistis dari kulturalam (Offshore Studio), meminta cara yang lebih emansipatoris untuk mengatasi keanekaragaman hayati. Sebagaimana yang dikatakan Bonneuil dan Fressoz, “mengupayakan kehidupan yang layak berarti membebaskan diri dari institusi represif, dari mengasingkan dominasi dan imajinasi. Ini bisa menjadi pengalaman yang luar biasa emansipatoris.”[13] Dengan membiarkan abstraksi, opasitas, dan puisi masuk, mungkin kita dapat mengaitkan bentuk nilai lain dengan lingkungan kita daripada “modal alam”.

[1]
Charmantier I., Carl Linnaeus and the visual representation of nature, in: Hist Stud Nat Sci. 2011; 41(4): 365–404. Charmantier I., Carl Linnaeus and the visual representation of nature, dalam: Hist Stud Nat Sci. 2011;41(4): 365-404.
[2]
Staffan Müller-Wille, Nature as a Marketplace: The Political Economy of Linnaean Botany, , in History of Political Economy, Volume 35, Annual Supplement, 2003, pp. 154–172. Staffan Müller-Wille, Nature as a Marketplace: The Political Economy of Linnaean Botany, in History of Political Economy, Volume 35, Annual Supplement, 2003, pp. 154-172.
[3]
Demos T.J., Decolonizing Nature: Contemporary Art and the Politics of Ecology. Berlin: Sternberg Press, 2016. Demos T.J., Decolonizing Nature: Contemporary Art and the Politics of Ecology. Berlin: Sternberg Press, 2016.
[4]
Turpin, Etienne, and Anna-Sophie Springer. Reverse Hallucinations in the Archipelago. Verlag & Haus der Kulturen der Welt, 2017.p.20. Turpin, Etienne, and Anna-Sophie Springer. Reverse Hallucinations in the Archipelago. Verlag & Haus der Kulturen der Welt, 2017.p.20.
[5]
Ibid., p.22. Ibid., p.22
[6]
R. Buckminster Fuller, Operating Manual for Spaceship Earth. (New York: Simon & Schuster, 1971). R. Buckminster Fuller, Operating Manual for Spaceship Earth (New York: Simon & Schuster, 1971).
[7]
Demos, T. J. Against the Anthropocene: Visual Culture and Environment Today. Berlin: Sternberg Press, 2017. Demos, T. J. Against the Anthropocene: Visual Culture and Environment Today. Berlin: Sternberg Press, 2017.
[8]
The Anthropocene defines Earth’s most recent geologic time period as being human-influenced, or anthropogenic, based on overwhelming global evidence that atmospheric, geologic, hydrologic, biospheric, and other Earth system processes are now altered by humans. anthropocene.info The Anthropocene, however, is not an official geological period and many theorists have criticised its use and totalising blame. Donna Haraway, for example, has suggested using other names, including Capitalocene, Antroposen mendefinisikan masa geologi paling baru di Bumi sebagai yang paling dipengaruhi manusia, atau antropogenik, berdasarkan bukti global yang luar biasa bahwa proses sistem atmosfer, geologi, hidrologi, biosfer dan proses bumi lainnya sekarang diubah oleh manusia. link The Anthropocene, bagaimanapun, bukanlah periode geologi resmi dan banyak teoritikus telah mengkritik pengunaan dan kesalahan totalisasi. Donna Haraway, misalnya menyarankan menggunakan nama lain, termasuk Capitalocene, Plantationocene, dan Chthulucene.
[9]
Plantationocene, and Chthulucene. Bonneuil, Christophe, and Jean-Baptiste Fressoz. The Shock of the Anthropocene: The Earth, History, and Us. London ; Brooklyn, NY: Verso, 2016. Bonneuil, Christophe, dan Jean-Baptiste Fressoz. The Shock of the Anthropocene: The Earth, History, and Us. London ; Brooklyn, NY: Verso, 2016.
[10]
Demos, T. J. Against the Anthropocene: Visual Culture and Environment Today. Berlin: Sternberg Press, 2017. Demos, T. J. Against the Anthropocene: Visual Culture and Environment Today. Berlin: Sternberg Press, 2017.
[11]
Ursula Kroeber Le Guin, The Word for World Is Forest. New York: Berkley, 1976. Ursula Kroeber Le Guin, The Word for World Is Forest, New York: Berkley, 1976.
[12]
Bonneuil, Christophe, and Jean-Baptiste Fressoz. The Shock of the Anthropocene: The Earth, History, and Us. London ; Brooklyn, NY: Verso, 2016. Bonneuil, Christophe, and Jean-Baptiste Fressoz. The Shock of the Anthropocene: The Earth, History, and Us. London ; Brooklyn, NY: Verso, 2016.
[13]
Ibid., p.291. Ibid., p.291.