next contribution kontribusi berikutnya

Saksi Bisu (Silent Witness) / Let Me Take You to a Tropical Paradise. Saksi Bisu/ Mari Kubawa Dirimu Menuju Surga Tropis

Laura Herman and Elisabeth Ida

Saksi Bisu. A Conversation between Laura Herman (NC) and Elisabeth Ida (EI) on the 1965-events and Nature as Silent Witness. Saksi Bisu. Sebuah Percakapan dengan Elisabeth Ida pada peristiwa 1965 dan Alam sebagai Saksi Bisu.

NC
Nature in Saksi Bisu (Silent Witness) is not what it seems. It appears to be light, idyllic, and exotic, yet as silent witness it conceals a dark episode from Indonesian history that is seldom discussed openly. Could you please speak to these historical events? Alam dalam Saksi Biksu tidak seperti yang terlihat. Terlihat terang, surgawi, dan eksotis, namun sebagai saksi biksu menyembunyikan sebuah episode gelap dalam sejarah Indonesia, yang jarang sekali dibuka untuk didiskusikan. Dapatkah anda berbicara mengenai peristiwa sejarah ini?
EI
The installation Saksi Bisu (Silent Witness) comprises a film, a sound installation produced in collaboration with the Mexican artist Mauricio Valdés San Emeterio – and small sculptures. Together these works address one of most heinous genocides of the 20th century, namely the mass killings that took place in 1965 and led to president Sukarno's displacement from power. Following the alleged coup by the members of the Communist Party (PKI) on September 30, 1965, General Suharto called for their prosecution, leading to the slaughter of about one million (alleged) communists. Possibly more. After this, Suharto remained in power for 32 more years. In 1998, he was eventually forced to resign as President of Indonesia under pressure of the population and the international political community. Today, Indonesians still talk about 1965-66, especially in the weeks prior to September. During that period, you'll see big banners throughout Indonesia with slogans saying "Beware of Communism." This is absurd, of course, because Communism no longer exists in Indonesia. All Communists were murdered at the time. Instalasi Saksi Bisu terdiri dari sebuah film, sebuah instalasi suara yang diproduksi dengan berkolaborasi dengan seniman Meksiko Mauricio Valdés San Emeterio – dan patung-patung kecil. Bersama-sama karya ini menyampaikan salah satu genosida yang paling mengerikan dalam abad ke 20, pembunuhan massal terjadi di tahun 1965 dan menyebabkan presiden Sukarno dilengserkan dari kekuasaan. Mengikuti tuduhan kudeta dari anggota Partai Komunis Indonesia (PKI) pada tanggal 30 September 1965, Jendral Suharto menyerukan perburuan mereka, yang mana berakhir dengan pembantaian sekitar satu juta orang (yang dituduh) komunis. Kemungkinan besar lebih banyak. Setelah peristiwa ini, Suharto berkuasa selama 32 tahun lamanya. Di tahun 1998, ia dipaksa untuk mengundurkan diri sebagai Presiden Indonesia di bawah tekanan dari populasi dan komunitas politik internasional. Sekarang orang Indonesia masih membicarakan mengenai 1965-66, terutama pada minggu-minggu menuju bulan September. Pada periode ini, anda akan melihat banyak spanduk besar di seluruh Indonesia dengan slogan mengatakan “Waspada dengan Bahaya Laten Komunis.” Hal ini tentu saja tidak masuk akal, karena Komunisme tidak ada lagi di Indonesia. Semua orang Komunis dibunuh pada masa itu.
NC
Communism in Indonesia may have been eradicated, it seems collectivist values rather than individualist ones underpin society. Komunisme di Indonesia mungkin telah dihilangkan, namun nilai-nilai kolektif ketimbang nilai individualis didukung dalam masyarakat.
EI
Collectivism in Indonesia doesn’t necessary have to do with Communism, but can be considered a cultural characteristic of Indonesia. Of course, in 1965 the Communist Party in Indonesia (PKI) was the third largest non-ruling party in the world. During that time, China and the Soviet Union were completely red. If Indonesia had turned completely red, the West Block would have faced a major challenge. Kolektifisme di Indonesia tidak perlu terkait dengan Komunisme, namun dapat dipertimbangkan sebagai sebuah karakter budaya Indonesia. Tentu saja, di tahun 1965 Partai Komunis Indonesia (PKI) adalah partai ketiga terbesar yang tidak berkuasa di dunia. Pada waktu itu, Cina dan Rusia secara total merah. Jika Indonesia juga secara total berubah merah, Blok Barat akan menghadapi tantangan utama yang berat.
#
IMG 1
Still from Elisaabeth da Mulyani, Saksi Bisu (Silent Witness) Let me take you to a tropical paradise, 2017 Gambar Fragmen dari Elisabeth Ida Mulyani, Saksi Bisu, Mari aku bawa kamu ke surga
NC
The United States, United Kingdom and Australia were quick to contain the Communist expansion. They were complicit in Suharto’s coup d'état (Kudeta). Amerika Serikat, Inggris dan Australia dengan cepat menahan ekspansi Komunis. Mereka terlibat dalam Kudeta Suharto.
EI
Yes, those countries were only found to be accomplices in 2015 for massacres and crimes against humanity by members of the jury of the International People's Tribunal 1965 in The Hague. The sentence published by seven of the international judges contained the term ‘genocide’, which mostly referred to the persecution of ethnic Chinese. Ya, negara-negara tersebut terbukti berperan sebagai kaki tangan peristiwa pada tahun 2015 untuk pembantaian dan kejahatan terhadap kemanusiaan oleh anggota juri Pengadilan Rakyat Internasional 1965 (International People's Tribunal 1965) di Hague. Vonis yang diterbitkan oleh tujuh dari hakim internasional mengandung istilah ‘genosida’, yang mana mereferensi pada kebanyakan perburuan dari etnis Cina.
NC
In Joshua Oppenheimer's controversial documentary The Act of Killing (2012) (Jagal in Indonesian, meaning ‘butcher’), the members of the infamous Pemuda Pancasila Assassination Command are asked to stage re-enactments of the mass killings. What did you think about the film? Dalam dokumenter kontroversial Joshua Oppenheimer, The Act of Killing (2012) (Jagal), anggota dari Komando Pembunuhan Pemuda Pancasila yang terkenal keji diminta untuk memperagakan kembali adegan dari pembunuhan massal. Apa yang kamu pikirkan mengenai film ini?
EI
The film contains many contradictions, but I think that’s a good thing. Both The Act of Killing and its predecessor The Look of Silence created space for dialogue, while also triggering manifestations of hatred. In that sense, the films have made the slumbering conflict that underlies Indonesian society more manifest. If you want to take steps towards a different kind of society, you should first acknowledge that there are problems. When the truth comes out, people either agree or disagree. That’s a good start, because, in Indonesia, our thinking long been very uniform and little critical due to the heavy brainwash that happened for decades. Saya membantu penerjemahan dalam film ini dan mengenal baik sutradara dan ko-sutradara (“Anonim”) dari Indonesia. Dikarenakan karakter kontroversial dari film ini, saya hanya mengetahui sedikit mengenai waktu pembuatannya. Film ini, tentu saja, mengandung banyak kontradiksi, saya pikir ini adalah hal yang baik. Baik The Act of Killing (Jagal) dan kelanjutannya The Look of Silence (Senyap) membuat ruang untuk dialog, namun di saat yang sama juga memicu manifestasi dari kebencian. Dalam artian tersebut, film ini membuat konflik yang tidur nyenyak mendasari masyarakat Indonesia menjadi terwujud. Jika anda mau mengambil langkah-langkah menuju masyarakat yang berbeda, anda harus pertama-tama mengakui adanya persoalan. Ketika kebenaran keluar, orang-orang akan setuju atau tidak setuju. Ini adalah awal yang baik, karena di Indonesia, pemikiran kami sudah terlalu lama diseragamkan dan genting dikarenakan proses pencucian otak yang terjadi selama sekian puluh tahun.
#
IMG 2
Still from Elisaabeth da Mulyani, Saksi Bisu (Silent Witness) Let me take you to a tropical paradise, 2017 Gambar Fragmen dari Elisabeth Ida Mulyani, Saksi Bisu, Mari aku bawa kamu ke surga
NC
How did you experience the brainwashing? Bagaimana diri anda mengalami pencucian otak?
EI
My generation was heavily brainwashed. From 1984, students of 6 or 7 years old had to watch the propaganda film Pengkhianatan G30S / PKI (Treason of G30S / PKI) on TV each evening of September 30th. The next morning your teachers questioned you about it. The generation of my slightly older sister was forced to watch the film in a cinema with locked doors. The film is a government-manipulated version of the coup attempt translated into a docudrama with very 'cheesy' but 'creepy' music. You mainly see atrocities such as the face of a general mutilated with a razor. Children were forced to see all that horror. You can only imagine how deep the hatred was. The film was one of our few permitted sources regarding the history of Indonesia. Even today, those events in schoolbooks are still being manipulated. It was only when I came to Belgium and could distance myself that I saw how much a truth was taught to me that turned out to be one big lie. Generasi saya dicuci otak total. Dari tahun1984, murid-murid sekolah dasar di usia 6 atau 7 tahun harus menonton film propaganda Pengkhianatan G30S / PKI di televisi setiap malam 30 September. Di pagi berikutnya, guru-guru akan bertanya kepada murid-murid mengenainya. Generasi kakak saya yang lebih tua sedikit dipaksa untuk menonton film ini di bioskop dengan pintu tertutup. Film ini adalah versi kudeta yang dimanipulasi oleh pemerintah, diterjemahakn menjadi sebuah dokudrama yang sangat ‘buruk’ namun dengan musik yang ‘mengerikan’. Anda akan melihat kekejaman seperti wajah jendral yang dimutilasi dengan silet. Anak-anak dipaksa untuk melihat semua horor ini. Anda dapat membayangkan bagaimana dalamnya kebencian itu. Film ini hanya salah satu dari sumber yang diijinkan dalam sejarah Indonesia. Bahkan sekarang, peristiwa ini masih dimanipulasi dalam buku-buku sekolah. Hanya ketika saya datang ke Belgia dan dapat berjarak barulah saya melihat begitu banyak perihal yang diajarkan kepada saya merupakan salah satu kebohongan terbesar.
NC
Was this same measure applied to the inhabitants of all the islands in the Indonesian archipelago? Apakah tindakan yang sama diaplikasikan kepada semua penduduk di Kepulauan Indonesia?
EI
Yes, everywhere. For an earlier work (De / Re) Construction I asked several young Indonesians: "What crosses your mind when you hear the word ‘communism’?" From the answers I got, I could easily deduce how traumatic the brainwashing had been. Some youngsters gave answers that were rather apolitical and indifferent, but in general the film created a lot of fear. A woman told me that she got panic reactions when she saw a banana tree, a species that grows all over Indonesia. There was a scene in the film in which a pile of corpses is covered with banana trees. Those scenes remain with us; they were very violent and traumatising. Ya, di semua tempat. Dari kerja awal (De/Re) Konstruksi, saya bertanya kepada beberapa anak muda Indonesia: “Apa yang muncul dalam kepalamu ketika dirimu mendengar kata ‘komunisme’?” Dari jawaban yang saya dapatkan, saya dapat dengan mudah menyimpulkan bahwa bagaimana traumatiknya proses pencucian otak berlangsung. Sebagian anak muda memberikan jawaban namun lebih apolitis dan masa bodoh, namun secara umum film ini menciptakan banyak ketakutan. Seorang perempuan mengatakan kepada saya bahwa ia mendapatkan reaksi panik ketika ia melihat pohon pisang, sebuah spesies yang tumbuh di seluruh Indonesia. Dalam sebuah adegan di film ini yang mana tumpukan mayat ditutupi oleh pohon pisang. Adegan-adegan ini tetap tinggal bersama kami; yang mana begitu brutal dan menyebabkan trauma.
NC
Let's come back to your film Saksi Bisu (Silent Witness). Rather than showing the bloodbath and the violence, you present us with the image of a seemingly untouched nature. Mari kembali pada film anda Saksi Bisu. Dibandingkan menampilkan pertumpahan darah dan kekerasan, dirimu menampilkan kepada kami imaji mengenai alam yang sepertinya tidak tersentuh.
EI
The film shows footage of Gua Grubug in Yogyakarta, a cave where 1,500 corpses were dumped during the genocide. In the film, you don’t see anything of that lugubrious history. You only see the natural beauty that characterises Indonesia. The cave was completely cleaned up in the eighties and is nowadays a tourist attraction for foreign tourists. For locals access is too expensive. Relatively few people can enter each day because everyone wants to see the so-called celestial light that enters the cave opening around 12 o'clock in the afternoon. I have entered twice. The first time with a tour guide to hear what he would tell. That turned out to be very disappointing: no word was spoken about 1965-66, just as nature is silent. The title of the work Silent Witness is based on the book Guilty Landscapes by Armando. Nature seems innocent and impartial, but you can also view it differently. It can grow and thrive on human remains and serves as a cover for murders and assaults. In this way, nature is an accomplice. Film ini memperlihatkan rekaman dari Gua Grubug di Yogyakarta, sebuah gua di mana 1,500 mayat dibuang dalam proses genosida. Dalam film ini, anda tidak akan melihat apapun mengenai kemurungan sejarah ini. Anda hanya akan melihat keindahan alam yang menjadi karakter Indonesia. Gua ini dibersihkan total di tahun delapanpuluhan dan sekarang menjadi daya tarik untuk turis asing. Untuk turis lokal aksesnya terlalu mahal. Hanya sebagian orang dapat masuk setiap harinya karena semua orang ingin melihat apa yang disebut sebagai cahaya surgawi yang menerangi jalan masuk gua setiap jam 12 siang. Saya telah memasukinya dua kali. Pertama kali dengan seorang pemandu wisata untuk mendengarkan apa yang ia ceritakan. Hal ini menjadi mengecewakan: tidak ada sepatah kata pun berbicara mengenai 1965-66, hanya alam yang diam. Judul dari karya ini Saksi Bisu berdasarkan pada buku dari Lanskap yang Bersalah (Guilty Landscapes) oleh Armando. Alam sepertinya murni dan tidak berpihak, namun anda melihatnya secara berbeda juga. Ia dapat tumbuh dan berkembang pada sisa manusia dan berperan sebagai selubung untuk menutupi pembunuhan atau penyerangan. Dalam cara ini, alam menjadi kaki tangan.
#
IMG 3
Still from Elisaabeth da Mulyani, Saksi Bisu (Silent Witness) Let me take you to a tropical paradise, 2017 Gambar Fragmen dari Elisabeth Ida Mulyani, Saksi Bisu, Mari aku bawa kamu ke surga
NC
The idea of the landscape as an actor also makes sense in the context of Indonesia culture rife with animist elements. Ya, orang-orang masih percaya dengan jiwa dari alam, bahkan jika Islam berusaha menekan kepercayaan ini lebih jauh.
EI
Yes, people still believe in the soul of nature, even if Islam increasing pressure on this belief. Ya, orang-orang masih percaya dengan jiwa dari alam, bahkan jika Islam berusaha menekan kepercayaan ini lebih jauh.
NC
How will your research further develop? Bagaimana riset anda akan berkembang lebih jauh?
EI
In the coming years, I want to extend my work to a broader and more universal investigation into genocide. I want to study how genocides were visually translated into the public at various places in the world. Which languages, word choices or visual aspects are used by the rulers and oppressed? That is how I went to Sarajevo in Bosnia and Herzegovina and to Phnom Penh in Cambodia. Communication about genocide is very specific from country to country. While all traces were wiped out in Indonesia, the genocide in Cambodia was extensively documented, eventually making possible a trial of the regime. In Indonesia we can only dream about that kind of documentation. In order to arrive at proof, the law must first be amended in which it is still stated that Communism is forbidden. This prohibition must first be lifted before 1965-66 can openly be discussed. Dalam tahun-tahun mendatang, saya ingin meperluas karya saya dan menyelidiki secara universal mengenai genosida. Saya ingin mempelajari bagaimana genosida secara visual diterjemahkan untuk umum dalam berbagai tempat di dunia. Dalam bahasa yang bagaimana, pilihan kata atau aspek visual yang digunakan oleh penguasa dan yang ditindas? Inilah bagaimana saya pergi ke Sarajevo di Bosnia dan Herzegovina dan Phnom Penh di Kamboja. Komunikasi mengenai genosida sangat spesifik dari negara ke negara. Sementara semua jejak dihapuskan di Indonesia, genosida di Kamboja secara ekstensif didokumentasikan, yang mana pada akhirnya memungkinkan untuk mengadili rezim. Di Indonesia kita hanya bisa bermimpi dengan dokumentasi demikian. Untuk sebuah perintah mencari bukti, hukum harus dirubah terlebih dahulu yang mana masih menyatakan bahwa Komunisme itu dilarang. Pelarangan ini harus diangkat sebelum 1965-66 bisa secara terbuka didiskusikan.