next contribution kontribusi berikutnya

Where Farming Methods Read as Poems Di mana Metode Pertanian Dibaca Sebagai Puisi

Yasmine Ostendorf

You must have come across the word ‘commons’. A simple way of explaining the concept of the commons is that it is a form of sharing resources by a community without private or governmental intervention. This could concern inherited commons (for instance rivers, forests, air...), immaterial commons (for instance intellectual, cultural...) or material commons (for instance machinery). It concerns communal resources that are (or rather could be) managed collectively without identified ownership but with shared responsibility. Though the concept of the commons often remains in the topic of social processes, more and more artists, city planners, environmentalists, philosophers, designers and architects around the world are recognising ‘commoning’ as an interesting way of working against capitalism, which keep commodification, commercialisation and privatisation of resources at arm’s length. Indonesian urbanist Marco Kusumawijaya explains1: “communities can play an important role in moving towards a different paradigm that is not dominated by capitalism and neoliberal governments. Rather, communities can be the stewards of land and resources as well as being an essential place where relationships, alternatives, substitutes and critiques are constantly in the making.”2 Kamu pasti pernah menemukan kata ‘milik umum’. Cara yang sederhana untuk menjelaskan konsep dari milik umum adalah bentuknya sebagai sumber yang dibagi bersama oleh komunitas tanpa intervensi swasta maupun pemerintah. Ini dapat dipahami sebagai sumber daya alam umum yang diwariskan (misalnya sungai, hutan, udara..), sumber daya immaterial (misalnya intelektual, budaya...) atau sumber daya material (misalnya mesin). Ini menyangkut sumber daya komunal untuk dikelola secara kolektif (lebih akan apa yang bisa) tanpa mengidentifikasi kepemilikan namun juga berbagi tanggung jawab. Walaupun konsep dari milik umum seringkali tetap dalam topik proses sosial, semakin banyak seniman, perencana kota, ahli lingkungan, filsuf, desainer dan arsitek di seluruh dunia mengenali ‘membuat sesuatu menjadi kepemilikan umum’ adalah cara yang menarik untuk bekerja melawan kapitalisme, yang mana komodifikasi, komersialisasi dan privatisasi sumber daya berada hanya sepanjang lengan. Urbanis Marco Kusumawijaya menjelaskan [1]: “komunitas dapat memainkan peran yang penting dalam bergerak menuju paradigma berbeda yang tidak didominasi oleh kapitalisme dan pemerintah neoliberal. Sebaliknya, komunitas dapat menjadi pengelola tanah dan sumber daya serta menjadi tempat penting di mana, hubungan, alternatif substitusi dan kritis selalu secara konstan dibuat.”[2]

#
IMG 1
Elia Nurvista. Performance. Hunger Inc. Courtesy of Jogja Biennale Elia Nurvista. Performance. Lapar Inc. Diberikan oleh Jogja Biennale

The inherited commons in Indonesia, however, are under constant threat because of their great monetary value. They are valuable natural capital. Indigenous people who have been living in rainforests for centuries often face displacement from their ancestral land, and risk getting detached from their customary systems of natural resource management. A lot of these communities—especially rural ones—hold vast amounts of local knowledge of the natural world,including maintenance of high biodiversity levels, sustainable farming practices, water irrigation systems, food, sustainable architecture and crafts. Indigenous knowledge is a product of the adaptation of farming practices to the local environment, creating unique practices that go hand in hand with creativity, culture and spirituality. Many indigenous farmers, for example, believe that the success of their harvest is depends on divine intervention. Kepemilikan bersama yang diwariskan di Indonesia, tetap berada dalam ancaman konstan dikarenakan nilai moneternya yang besar. Mereka adalah modal alam yang berharga. Masyarakat adat yang telah tinggal di hutan hujan tropis selama beraban-abad sering menghadapi pemindahan dari tanah leluhur mereka, dan beresiko untuk tercabut dari sistem pengelolaan adat mereka untuk sumber daya alam. Kebanyakan dari komunitas ini – terutama yang terpencil di pedesaan – menyimpan pengetahuan lokal yang luas mengenai alam, termasuk merawat tingkatan tinggi keanekaragaman hayati, keberlanjutan, praktik pertanian, sistem irigasi air, makanan, arsitektur keberlanjutan dan kerajinan. Pengetahuan masyarakat adat adalah produk dari adaptasi praktik pertanian pada lingkungan lokal, menciptakan praktik unik berjalan seiring dengan kreativitas, budaya dan spiritualitas. Banyak petani adat, misalnya, percaya dengan kesuksesan panen mereka bergantung dengan campur tangan ilahi.

There are numerous examples of displacement of indigenous communities, including the Mentawai people in Siberut3 and the Dayak people in Kalimantan (Borneo)4. The main reason for this is to make space for more palm oil companies. Deforestation and forest degradation are important environmental issues In Indonesia; about 1 million hectares of forest is decreasing every year. A needed transition from clearing to protecting is occurring (too) slowly. Environmental protection suffers from infrastructural bottlenecks and ineffective bureaucracy. In addition, corruption allows for illegal logging and unlawful licensing. The responsibility for licensing often shifts back and forth between national and local levels of the government. This makes that the implementation of legislation is weak. Extractive industries often strongly oppose legislation as this is not in their economic interest. Ada beberapa contoh pemindahan komunitas masyarakat adat, termasuk orang-orang Mentawai di Siberut [3] dan orang Dayak di Kalimantan (Borneo) [4]. Alasan utamanya adalah untuk memberikan ruang lebih banyak perusahaan minyak kelapa sawit. Deforestasi dan degradasi hutan adalah isu lingkungan yang paling penting di Indonesia; sekitar 1 hektar hutan berkurang setiap tahunnya. Transisi yang diperlukan dari pembukaan hutan hingga melidunginya terjadi (begitu) perlahan. Perlindungan lingkungan mengalami kemacetan infrastruktur dan birokrasi yang tidak efektif. Sebagai tambahan, korupsi mengijinkan pembalakan liar dan perizinan yang tidak sah. Tanggung jawab untuk perizinan seringkali bergeser maju dan mundur antara tingkatan nasional dan lokal pemerintahan. Ini membuat implementasi dari legislasi lemah. Industri ekstraktif sering kali dengan kuat bersebrangan dengan legislasi karena tidak sesuai dengan kepentingan ekonomi mereka.

Indonesia has a long history of what we might now call ‘commoning’, but what is locally known as gotong royong5 or bersama sama6. Traditionally, both social and environmental stewardship have been at the heart of Indonesian kampung7 life and Indonesian artists play a pivotal role in keeping this spirit alive. Artist Gustaff Harriman Iskandar8 explains that artists traditionally have a special status and social function in Indonesian society: “The artist often has an important position in the community (sometimes as spiritual leader, or politician) and is expected to make a contribution to society. They are not seen in the individual domain but rather seen in a social context.”Iskandar explains how indigenous farming and culture are interlinked and adds: “the mechanism for the equipment of the indigenous farmers is explained in a poem. The manual and guidelines are read as a poem. Art and cultural expression is integrated in the farming practices. There is a necessity to record and recognise the knowledge. It’s not possible to document what they do with general approaches, nothing is written down, it’s all oral and you need to live and work with them to understand.” Indonesia memiliki sejarah panjang dengan apa yang sekarang kita sebut ‘membuat kebersamaan umum’, namun apa yang secara lokal dikenal dengan gotong royong[5] atau bersama- sama[6]. Secara tradisional, baik kepedulian sosial dan lingkungan telah menjadi inti kehidupan kampung [7] dan seniman Indonesia memainkan peran penting dalam menjaga agar semangat ini tetap hidup. Seniman Gustaff Harriman Iskandar [8] menjelaskan bahwa seniman secara tradisional memiliki status sosial khusus dan fungsi sosial dalam masyarakat Indonesia: “Seniman seringkali memiliki posisi yang penting dalam komunitas (kadangkala sebagai pemimpin spiritual, atau politisi) dan diharapkan untuk memberikan kontribusi untuk masyarakat. Mereka tidak terlihat dalam ranah individu melainkan dalam konteks sosial.” Iskandar menjelaskan bagaimana pertanian adat dan budaya saling terkait dan menambahkan: “mekanisme untuk peralatan dari petani adat dijelaskan dalam puisi. Manual dan pedoman dibaca sebagai sebuah puisi. Ekspresi seni dan kebudayaan diintegrasikan dalam praktik pertanian. Ada kebutuhan untuk mencatat dan mengenali kebutuhan. Tidak mungkin mendokumentasikan apa yang mereka lakukan dengan pendekatan umum, tidak ada yang tertulis, semuanya lisan dan Anda perlu untuk hidup dan bekerja dengan mereka untuk mengerti.”

#
IMG 2
Not for Sale, ©Jacob Gatot Surarjo Tidak Untuk Dijual, ©Jacob Gatot Surarjo

The communities themselves often don’t recognise the value, qualities or importance of their practice as it has been like that forever. “For them, what they make and do is nothing special,”explains Anindita Taufani,“People will only value the product, not the craftsmanship. The cost is only the material, not the labour.”9In Bumi Pemuda Rahayu10, the residency programme Taufani helps running, a vision of ecological sustainability is promoted through their works with communities. The residency organises workshops and trainings in order to facilitate knowledge exchange and knowledge preservation from local communities for instance on the use of bamboo but also concerning recycling and composting. Komunitas itu sendiri terkadang tidak menyadari nilai, kualitas dan pentingnya praktik mereka karena mereka selalu melakukannya selama ini. “Untuk mereka, apa yang mereka buat, lakukan bukanlah sesuatu yang spesial,” jelas Anindita Taufani, “Orang hanya akan menilai produk, bukan keahliannya sebagai pengrajin. Harga hanya ditentukan dari materi, dan bukan tenaga kerja.”[9] Di Bumi Pemuda Rahayu[10], program residensi yang Taufani bantu kelola, sebuah visi keberlanjutan ekologi dipromosikan melalui kerja-kerja mereka dengan komunitas. Residensi mengadakan workshop dan training dalam rangka memfasilitasi pertukaran pengetahuan dan preservasi pengetahuan dari komunitas lokal sebagai contohnya mengenai penggunaan bambu, tetapi juga mengenai daur ulang dan pengomposan.

Artist Irene Agrivine11, member of art/science collective XXlab adds to this: “We’re doing a lot of experiments and if we don’t know something we ask the experts. We tap into local wisdom; we do research in the village to see if someone already knows how to produce nano-cellulose for instance. Or when we want to get the pigment to use for natural dyes. These local people use different methods than universities. We combine all three: local wisdom, the universities and...Google. Colonialism diminished a lot of the old knowledge, it was considered as witchcraft.” Seniman Irene Agrivine [11], anggota dari kolektif seni/sains XXlab menambahkan pada hal ini : “Apa yang kita lakukan adalah banyak eksperimen dan jika kami tidak mengetahui sesuatu, kami bertanya kepada para ahli. Kami memanfaatkan kearifan lokal; kami melakukan riset ke desa untuk melihat apakah seseorang telah mengetahui bagaimana memproduksi nano-selulosa misalnya. Atau ketika kami ingin mengetahui bagaimana mendapatkan pigmen dalam pewarna alami. Orang-orang lokal ini menggunakan metode berbeda dengan universitas. Kami mengkombinasikan ketiga ini: kearifan lokal, universitas dan... Google. Kolonialisme telah menghilangkan banyak pengetahuan lama, karena waktu itu dianggap sebagai ilmu sihir.”

#
IMG 3
Irwan Ahmett and Tita Salina. ‘Trash Ball’. Irwan Ahmett dan Tita Salina. ‘Bola Sampah’.

Like Irena Agrivine, artists in Indonesia often work in collectives. Art collectives across Indonesia, and particularly in Yogyakarta, are practising this way of working in which they share knowledge, skills, responsibility and resources. Because the government often lacks in providing resources for artists, the artists started to organise themselves. “The sheer size of the country makes that things only work on a small scale”, artist Andreas Siagian from Yogyakarta based art/science collective Lifepatch explains.12 In a country that is so big and diverse, things function better in smaller systems and structures that allow for flexibility, fluidity and self-organising. Lifepatch enjoys the process of collaborating and calls this approach DIWO. Not just “do it yourself (DIY)” but “to do it with others” (DIWO). Seperti Irena Agrivine, seniman di Indonesia seringkali bekerja dalam kolektif. Kolektif seni di seluruh Indonesia dan khususnya di Yogyakarta, mempraktikkan cara bekerja di mana mereka berbagi pengetahuan, keterampilan, tanggung jawab dan sumber daya. Karena pemerintah sering kekurangan sumber daya untuk seniman, para seniman mulai mengorganisir diri. : “Ukuran negara ini membuat hal-hal hanya bisa bekerja dalam skala kecil,” kata Andreas Siagian dari kolektif seni/sains Lifepatch berbasis di Yogyakarta menjelaskan.[12] Dalam negara yang begitu besar dan beragam, segala sesuatunya berfungsi lebih baik dalam sistem dan struktur yang lebih kecil yang memungkinkan fleksibilitas, fluiditas dan pengorganisasian sendiri. Lifepatch menikmati proses kolaborasi dan menyebut pendekatan ini DIWO. Bukan hanya “do it yourself (DIY – lakukan sendiri)” namun juga “lakukan dengan orang lain” (DIWO – do it with others).

Across Indonesia art collectives are leading the charge in creating alternative ways of dealing with resources, alternative currencies, exchanging skills, repairing, and that have created a strong DIY culture and arts infrastructure. They are innovating, experimenting and having fun. The collective is a good alternative to what artist Ade Darmawan from Ruangrupa calls the big structures: “Big structures have more difficulties to be relevant. They are always slow. You need to have real conversation with society and they miss a radar or mapping system. That’s lost. It’s hard for an institution to be localised. My experience with Ruangrupa is not bringing the community to an institution but the other way around.”13 Di seluruh Indonesia kolektif seni memimpin arah dalam menciptakan cara-cara alternatif dalam berurusan dengan sumber daya, mata uang alternatif, bertukar keahlian, memperbaiki, dan mereka menciptakan budaya DIY (lakukan sendiri) dan infrastruktur yang kuat. Mereka berinovasi, bereksperimen dan bersenang-senang. Kolektif adalah alternatif yang baik untuk apa yang seniman Ade Darmawan dari Ruang Rupa menyebut struktur besar: “Struktur besar memiliki kesulitan lebih untuk menjadi relevan. Mereka selalu lambat. Anda memerlukan obrolan yang nyata dengan masyarakat dan mereka melewatkan radar atau sistem pemetaan. Proses ini hilang. Sangatlah sulit untuk institusi apapun untuk dilokalisasikan. Pengalamanku dengan Ruang Rupa adalah tidak membawa komunitas pada institusi namun lebih pada sebaliknya.” [13]

At Arsitek Komunitas, a community architecture initiative in Yogyakarta, each project starts with advice from the community. “The community doesn’t want to be an object in the collaboration”, says Amalia Nur Indah Sari from Arsitek Komunitas, “Our principle is: believe the people, they are the solution. You need to trust the community and the community needs to trust you.”14 Di Arsitek Komunitas, sebuah komunitas inisiatif arsitek di Yogyakarta, setiap proyek dimulai dengan saran dari komunitas. “Komunitas tidak mau menjadi objek dalam kolaborasi”, kata Amalia Nur Indah Sari dari Arsitek Komunitas, “Prinsip kami adalah: percaya pada masyarakat, mereka adalah solusi. Kamu perlu percaya dengan komunitas dan komunitas perlu mempercayaimu.”[14]

#
IMG 4
Irwan Ahmett and Tita Salina, ‘Monorail Slalom’. Jakarta, 2010 Irwan Ahmett dan Tita Salina, ‘Monorail Slalom’. Jakarta, 2010

Key things to learn from Indonesia include its creativity, solidarity and resourcefulness. Whether it’s the indigenous communities in Riau, farmers on the rice fields of Bali practising subak15, or the Tukang16 in Jakarta, together the knowledge and skills that the people hold allow for a strong set-up for a sustainability. There is so much to learn from this society that has been through wars and genocide, which is at the forefront of climate change, centre of environmental degradation and one of the biggest carbon emitters in the world and yet through art and culture manages to inspire and perhaps hold some solutions for global problems. This is our chance to widen our thought horizons: there are alternatives on offer. Hal-hal utama yang bsia dipelajari dari Indonesia termasuk kreativitasnya, solidaritas dan kekayaan sumbernya. Apakah itu di komunitas masyarakat adat di Riau, petani di sawah yang mempraktikkan subak [15], atau tukang[16] di Jakarta, bersama dengan pengetahuan dan keahlian yang orang-orang ini miliki memberikan awal yang kuat untuk keberlanjutan. Begitu banyak yang bisa dipelajari dari masyarakat yang telah melalui perang dan genosida, yang berada di garis depan dari perubahan iklim, pusat dari degradasi lingkungan dan salah satu emitor karbon terbesar di dunia namun demikian melalui seni dan budaya mampu menginspirasi dan bahkan mungkin memegang sebagian solusi untuk masalah global. Ini adalah kesempatan kita untuk memperluas horison pemikiran kita bahwa: ada alternatif yang bisa ditawarkan.

[1]
The author interviewed urbanist Marco Kusumawijaya on the 28th of February 2016. Wawancara penulis dengan urbanis Marco Kusumawijaya pada tanggal 28 Februari 2016.
[2]
Kusumawijaya explains community as ‘a group of people where its members live together in a territory, and share some commons in concrete way, with bounds and consequences immediately felt when something goes wrong.’ Kusumawijaya menjelaskan komunitas sebagai ‘sekelompok orang yang anggotanya hidup bersama di sebuah wilayah, dan berbagi sumber daya bersama dalam cara yang konkrit, dengan batasan dan konsekuensi yang secara langsung dirasakan jika sesuatu berjalan salah.’
[3]
New York Times. 2 December 2016 nytimes.com New York Times. 2 December 2016 link
[4]
Three case studies of four ethnic subgroups of the Dayak Bidayuh indigenous people (Hibun, Sami, Jangkang and Pompang), describe and explore conflict and collaboration between these communities in West Kalimantan in relation to the expansion of oil palm plantations. Full report: worldagroforestry.org Tiga studi kasus mengenai empat teknik subgrup dari masyarakat adat Dayak Bidayuh (Hibun, Sami, Jangkang dan Pompang), digambarkan dan mengeksplorasi konflik dan kolaborasi antara komunitas ini di Kalimatan Barat dengan kaitannya terhadap ekspansi perkebunan minyak kelapa sawit. Laporan selengkapnya: worldagroforestry.org
[5]
Refers to a collaborative approach and a way of working for a higher communal goal. Mengacu pendekatan kolaboratif dan scara bekerja untuk tujuan kommunal yang lebih tinggi.
[6]
A Malay word that translates as togetherness. Kata Melayu yang diterjemahkan sebagai kebersamaan.
[7]
Village or community. Desa atau komunitas.
[8]
The author interviewed artist Gustaff Harriman Iskandar on the 19th of August 2016 in Bandung. Wawancara penulis dengan seniman Gustaff Harriman Iskandar pada tanggal 19 August 2016 di Bandung.
[9]
The author interviewed Anindita Taufani on the 19th of August 2016 Wawancara penulis dengan Anindita Taufani pada tanggal 19 Agustus 2016
[11]
The author interviewed Irena Agrivine on the 8th of August 2016 Wawancara penulis dengan Irena Agrivine pada tanggal 8 Agustus 2016
[12]
The author interviewed artist Andreas Siagan on the 8th of August 2016 in Yogyakarta. Wawancara penulis dengan seniman Andreas Siagan pada tanggal 8 Agustus 2016 di Yogyakarta.
[13]
The author interviewed artist Ade Darmawan from Ruangrupa on the 4th of October 2016. Wawancara penulis dengan seniman Ade Darmawan dari Ruangrupa pada tanggal 4 October 2016.
[14]
The author interviewed Amalia Nur Indah Sarih on the 14th of August 2016. Wawancara penulis dengan Amalia Nur Indah Sarih pada tanggal 14 Agustus 2016.
[15]
A sustainable form of water management developed in the 9th century that is based on sharing. Sebuah sistem manajemen air yang dikembangkan pada abad ke-9 yang berbasis dengan berbagi.
[16]
Repairmen. Tukang memperbaiki.